KARYA: Anita Nurhayati

AKU pernah bertanya pada diriku sendiri saat tinggiku tak melebihi 120 sentimeter.

Apa yang lebih menyakitkan dari pada dikhianati dan ditinggalkan? Namun aku belum bisa menemukan jawaban atas pertanyaanku saat itu.

Yang aku tahu tidak ada yang lebih sakit dari pada dikhianati dan ditinggalkan saat aku melihat ibuku sendiri mengalami hal itu.

Aku belum bisa mengerti dengan baik apa yang telah terjadi padanya dan pada ayah saat itu.

Yang aku tahu, ibu menangis dan ayah pergi bersama seorang wanita angkuh kemudian tidak pernah kembali lagi.

Saat itulah aku menyimpulkan tidak ada yang lebih sakit dari pada dikhianati dan ditinggalkan.

Namun sekarang aku mengerti dan aku tau benar, apa yang lebih sakit daripada hal itu?

Jawabannya, mencintai seseorang tanpa bisa memilikinya. Percayalah. Itu lebih sakit daripada apa pun.

***

Tap tap tap tap. Aku mengayunkan kedua kakiku secara bergantian mencoba untuk mempercepat langkahku setelah beberapa detik kemudian langit memuntahkan segala tangisnya pada sore ini.

Aku tak lagi peduli dengan tanah merah yang mengotori ujung celana jeans hitamku yang aku inginkan saat ini adalah sesegera mungkin menjauh dari beberapa gundukan tanah yang sedari tadi aku lewati.

Pakaian dan rambutku mulai basah karena aku tak kunjung menemukan tempat untuk berteduh.

Aku berdecak sedikit kesal kemudian melambatkan langkah kakiku pasrah dengan guyuran air yang seakan tumpah dan berniat memaksaku untuk bermain air.

Aku sedikit melonjak saat tiba-tiba sambaran petir memekakkan telingaku, aku terkejut bukan main selang beberapa detik setelahnya cahaya petir menyilaukan penglihatanku.

Aku tak mengerti tiba-tiba saja aku jatuh terduduk di atas tanah basah berwarna kemerahan ini.

Aku merasakan kedua kakiku lemas dan tak bisa ku paksakan untuk berjalan lagi.

Aku menunduk mengais tanah basah kemudian aku menengadah ke atas langit membiarkan wajahku disiram oleh butiran-butiran airnya.

Aku kembali menunduk setelah beberapa menit kemudian aku mengangkat kedua tanganku dan memperhatikan kedua telapak tanganku kembali bersih dibasuh oleh air hujan.

Aku tak tau apa yang telah aku lakukan saat ini, aku menangis? Apakah aku menangis?

Aku tak tau yang aku rasakan saat ini hanya perih dalam dada dan sesak yang tak dapat aku jelaskan.

Aku tidak tau bahkan aku benar-benar tidak yakin apakah aku masih bisa menangis lagi setelah aku tumpahkan seluruh air mataku sejak kemarin siang saat aku mengetahui bahwa kenyataannya aku telah kehilangan seseorang yang sangat aku cintai sejak dulu, ibuku.

Aku mencengkram erat kepalaku mencoba melupakan segala yang telah terjadi dalam kehidupanku.

Aku tidak bisa dengan mudah menerima fakta bahwa ibuku telah tiada.

Aku benar-benar tidak tau harus berbuat apa dan bercerita pada siapa karena selama ini hanya ibulah satu-satunya orang yang selalu berada di sampingku, hanya ibulah satu-satunya yang sangat aku cintai selain dia.

Suara serangga saling bersahutan ditengah kesunyian dalam kamarku.

Aku terbangun lalu melonjak kaget mengapa tiba-tiba aku berada di kamarku dan siapa yang telah membawaku ke sini karena seingatku aku sedang berada di pemakaman umum tadi sore.

Apa yang telah terjadi padaku. Aku menyapu sekitar yang nampak gelap, sepertinya sudah malam dan malam ini langit cerah tidak seperti sebelumnya.

Sinar bulan menerobos masuk ke dalam kamarku melalui jendela kamar yang ukurannya lumayan besar.

Aku bangkit dari dudukku lalu menghampiri jendela kamar yang tertutup.

Aku dorong kaca jendela itu membiarkan udara malam masuk ke dalam kamar.

Gorden seketika bergoyang terkena embusan angin malam dan menusuk kulit hingga ke tulang.

Aku bergidik kedinginan lalu membalikan tubuhku.

Saat membalikkan tubuhku, aku terkejut ada sesosok makhluk di depanku dia sedang menatapku tajam seketika jantungku seakan berhenti dan mataku membulat.

Sosok itu mendekatiku sebelum kemudian raut wajahnya terlihat jelas.

“S…siapa kamu..? A..apa yang kamu lakukan di kamarku?” tanyaku sedikit terbata saat kemudian aku mengetahui siapa yang berada di hadapanku saat ini.

Dia menahan senyum seakan mengejekku yang sedikit ketakutan karena ulahnya.

Aku menarik napas kemudian membuangnya dan memutarkan bola mataku.

“Aku bertanya padamu, apa yang kamu lakukan di sini ?” aku mulai meninggikan nada suaraku.

“Maafkan aku, aku ga bermaksud jahat, kok. Tadi aku liat kamu tiduran di pemakaman aku kira kamu kenapa makanya aku bawa kamu pulang..” jelasnya yang membuatku sedikit jengkel.

“Aku ga tiduran di pemakaman… Mungkin tadi aku pingsan..” aku segera meralat dugaannya yang jelas salah besar dan aku lebih tidak percaya dengan apa yang telah aku ucapkan.

Dia nyengir kemudian raut wajahnya berubah menjadi sendu.

Aku menatapnya selama beberapa detik lalu melangkah keluar kamar. Dia masih membeku di tempatnya berdiri.

Lampu di ruang makan sengaja aku nyalakan meski sedikit redup.

Aku berjalan mendekati lemari pendingin lalu membuka pintu lemari tersebut.

Cahaya lampu seketika merambat menyoroti wajahku.

Aku mencari-cari botol minuman yang aku incar kemudian ku raih botol minuman itu.

Aku duduk di kursi sambil menenggak satu botol minuman soda saat kemudian dia datang menghampiriku dan membuatku terkejut, lagi.

“Kamu kenapa sih seneng banget bikin aku kaget, kamu mau liat aku mati jantungan, ya?” aku langsung naik darah.

Dia menundukkan wajahnya. “Maaf.. Aku ga berniat bikin kamu kaget” ucapnya yang sama sekali tidak aku jawab.

Aku menghela napas panjang. Hening hanya terdengar serangga malam saling bersahutan.

“Maaf kalau kedatanganku bikin kamu gak nyaman, aku bakal pergi sekarang..” ucapnya lalu segera berbalik.

“Mau kemana? Kamu gamau nemenin aku di sini?” tanyaku yang menghentikan langkahnya.

Dia berbalik menatapku. “Mungkin aku akan pergi sekarang, aku gamau ganggu kamu saat ini.” Ucapnya lalu pergi meninggalkanku.

Aku menatapnya yang hilang dibelokan sekat rumahku.

Aku menunduk dan mengembuskan napas panjang.

Air mata kembali berderai membasahi pipiku.

“Maafkan aku, Mario.. Maaf karena aku bersikap egois padamu..”

***

Sejak dulu aku memang seorang penyendiri, bukan karena aku tak memiliki teman..

Tapi semua itu aku lakukan karena aku merasa tidak nyaman berada di sekitar mereka.

Mungkin semua itu karena aku memiliki masa lalu yang buruk, setelah ayahku pergi bersama wanita angkuh itu aku menghindari semua teman-temanku karena aku tidak ingin ditinggalkan.

Aku merasa takut untuk kehilangan dan aku takut akan perasaan dikhianati.

Aku tidak ingin sesuatu hal yang terjadi pada ibu terjadi juga padaku maka dari itu aku memutuskan untuk tidak berbicara dengan siapa pun.

Sampai suatu saat aku bertemu dengannya, dengan seorang lelaki yang sangat aku sayangi lelaki yang benar-benar aku cintai, Mario.

Aku mengenalnya saat dia pertama kali menyapaku padahal aku sama sekali belum pernah melihat dia tapi mengapa dia tiba-tiba menyapaku.

Dia lelaki yang ramah, murah senyum, tinggi, dan tentunya tampan.

Saat pertama kali dia menyapaku, aku langsung jatuh hati padanya.

Bagainana tidak siapa pun pasti akan merasakan hal yang sama meskipun hanya sekadar mengagumi, aku rasa dia sosok yang pantas untuk dicintai.

Hari demi hari berlalu hingga berganti minggu dan menjadi bulan.

Sudah kurang lebih 6 bulan aku memendam perasaan suka ini padanya, aku mendapatkan celah selama satu bulan dan mencoba untuk mendekatinya.

Sampai pada suatu ketika aku menghampirinya.

Saat itu cuaca sangat cerah, langit biru ditambah lukisan gumpalan putih di langit menambah indah sore itu.

Semilir angin yang sesekali menerpa tubuhku melengkapi indahnya hari.

Aku menghampirinya dalam sedikit keramaian sambil tersenyum dan dia membalas senyumanku.

Kami mengobrol selama beberapa jam yang diakhir percakapan berubah menjadi… Agh…

Kami saling terdiam dalam keramaian.

Menyibukkan diri dengan pikiran masing-masing dan menerka apa yang akan terjadi selanjutnya.

Suara hingar bingar dalam keramaian terdengar samar di telingaku.

Aku memberanikan diri menatapnya meski jujur aku malu menatapnya.

Angin kembali menyentuh lembut pipiku yang terasa panas karena malu.

“Kamu, sayang sama aku?” tanyaku ragu sambil menatapnya dan menunjuk diriku sendiri seolah tak percaya dengan apa yang barusan dia katakan.

Gerakan kepalanya mengarah padaku dan kedua bola matanya menatapku hangat. Dia tersenyum lalu mengangguk.

Agghhh rasanya aku ingin berteriak dan memeluknya. Aku tidak menyangka dia juga menyayangiku.

Aku sungguh bahagia. Senyumku mengembang dan aku menundukkan kepala tak kuasa menatap senyumnya yang begitu menawan.

“Maaf udah bikin kamu nunggu selama ini” ucapnya padaku masih dengan tatapan yang sama.

Aku kembali menatapnya lalu mengangguk.

“Tak apa.. Aku juga minta maaf karena ga berterus terang” kami saling melempar senyum lalu raut wajahnya berubah.

Sedetik kemudian dia mengatakan sesuatu yang tidak ku sangka.

“Aku hanya titip satu hal, jangan sampai kita pacaran.. Aku gamau kehilangan orang yang aku sayang lagi..” Ucapnya yang sukses membuat dadaku sesak.

Aku yakin kini air mukaku berubah aku mengalihkan pandanganku mencoba mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya.

Aku mencoba untuk tersenyum dan mengangguk.

“Lebih baik kita jalanin dulu semua ini tapi aku sayang sama kamu” ujarnya lagi.

Aku terdiam dan mengangguk lagi karena hanya itulah yang bisa aku lakukan saat ini.

Angin sore mengantarkan pesan bahagia kali ini.

Aku terbang bersama harapan-harapan yang membuatku tersenyum gila karenanya.

Gumpalan awan putih tertiup angin di langit berarak menjauhi satu tempat ke tempat lainnya.

Hari ini berakhir dengan sebuah jawaban atas perasaanku selama 6 bulan.

Dua minggu setelah kejadian itu hubungan kami sedikit merenggang dan tanpa aku sadari aku mengucapkan satu hal yang pasti membuatnya sangat sakit.

“Kalau itu yang kamu mau, aku bakal bener-bener pergi dari kehidupan kamu, Mario..” ucapku sambil menangis.

Dia terdiam nampak terkejut dengan apa yang dia dengar.

“Baiklah kalau itu yang terbaik buat kita.. Makasih untuk segala kenangan manis yang udah kamu kasih..” ucapnya terdengar sedikit bergetar.

Dia tersenyum yang aku tau senyumnya menandakan dia telah terluka oleh kata-kataku.

“Maafkan aku, mungkin aku tidak benar-benar serius dengan perkataanku. Aku tidak ingin pergi tapi.. Aku harus menenangkan diriku sejenak untuk saat ini.. Maafkan aku.” Ucapku yang kemudian aku pergi meninggalkannya.

Air mataku telah mengering tertiup angin selama perjalanan, meskipun begitu tidak dengan luka yang aku torehkan di hatinya, aku rasa luka di hatinya tidak akan mengering dengan cepat. Maafkan aku..

Selang beberapa hari dari kejadian itu, kami berencana untuk bertemu dan menonton film.

Dia menghubungiku yang aku tau dia pasti merindukan aku karena selama beberapa hari aku sama sekali tidak mengabarinya.

Di perjalanan, aku sangat ingin mengatakan bahwa aku tidak pernah serius dengan perkataanku, aku tidak ingin pergi darinya.

“Apa aku boleh peluk kamu?” tanyaku yang berada di belakangnya saat dia sedang fokus mengendarai motor.

Dia mengangguk kemudian tanpa basa basi aku memeluknya.

“Meluknya kurang erat” ucap dia datar tapi sukses membuatku tersenyum.

Aku memeluknya dengan erat sesuai permintaannya.

Aku menempelkan daguku pada bahunya yang lebar kemudian menutup mata merasakan hangat tubuhnya di tengah terpaan angin di jalan raya.

“Satu hal yang harus kamu tau, aku tidak pernah benar-benar ingin pergi. Aku gamau pergi. Maafin aku” ucapku padanya yang semakin memeluknya erat.

Dia hanya menjawab dengan gumaman. Tanpa aku sadari, air mataku menetes dan aku semakin erat memeluknya.

***

Aku menarik napas panjang sambil menutup kedua kelopak mataku menikmati perih dalam hati yang perlahan berubah sesak dalam dada.

Aku merasakan hangat yang turun dari sudut mataku menuju dagu.

Tiba-tiba tangan dingin menyentuh ubun-ubun kepalaku.

Sontak aku membuka kelopak mataku dan menengadah menatap sosok itu.

“Jangan nangis, I am sorry, I am just scared, I am bad. I am so sorry” ucapnya terlihat sedih.

Aku tak mengerti, sejak kapan dia berada di hadapanku dan aku yakin dia pasti memergokiku sedang menangis karena dia mengatakan hal itu.

Aku menghela napas lagi dalam-dalam kemudian memeluknya sangat erat.

“Maafkan aku.. Maaf… Aku tidak sungguh-sungguh ingin pergi” ucapku bergumam.

Dia mendekap tubuh dan kepalaku yang bersandar pada perutnya.

Aku merasakan suhu tubuhnya sedingin es tidak sehangat saat aku memeluknya untuk yang pertama kali.

“Sejak kapan kamu menjadi cengeng seperti itu?” tanyanya dengan nada suara datar.

Aku menarik tubuhku dari dekapannya kemudian menatapnya.

Dia berjongkok menyeimbangan tinggi denganku yang sedang duduk di kursi.

“Kenapa natap aku kayak gitu, aku salah, ya ?” tanya dia polos.

Mata bulat dan bulu mata tebalnya sangat menggemaskan selalu saja membuatku ingin menyentuh kedua kelopak matanya.

Aku menutup mata dan mencoba tersenyum lalu menggeleng.

“Jangan nangis terus, aku ga suka liat kamu nangis..” gumamnya.

“Aku ga nangis, kok..” Ucapku dengan suara yang terdengar serak.

“Don’t make me sad, can you?” tanyanya menatapku tajam bibirnya mengatup. Aku mengangguk.

“Jangan pergi, jangan tinggalin aku sendiri, aku kangen sama kamu, aku butuh kamu, aku sayang sama kamu..” ucapku padanya sambil menahan air mata yang sebentar lagi pasti akan meleleh.

Dia hanya terdiam tanpa membalas apa pun yang aku katakan.

“Ayo makan, sejak ibumu meninggal aku ga pernah liat kamu makan lagi..” ucapnya.

Aku menggeleng. “Aku ga pengen makan..” tolakku sambil menghindari tatapannya.

“Ayolah… Apa perlu aku suapin kamu?” tanyanya yang membuat aku tersenyum.

“Ngga, aku gamau makan apa pun” jawabku. Tanpa berkata apa pun dia pergi melenggang ke arah dapur.

Aku yakin dia akan membawakanku makanan, dia memang keras kepala sama halnya seperti aku.

Tapi bagaimana pun juga aku tetap menyayanginya.

***

Di tengah ramainya acara graduation ceremony, aku menyeretnya jauh dari keramaian.

Aku hanya ingin berbicara dengannya berdua saja tanpa ada siapa pun.

Dan di sinilah kami, berdiri saling berhadapan meskipun suara musik masih terdengar aku mecoba memelankan suaraku agar tidak ada yang mendengar percakapan kami.

“Jadi, apa yang ingin kamu katakan?” tanyanya saat melihatku mengambil ancang-ancang untuk berbicara.

“Sesuai dengan janjiku, aku akan mengatakannya saat graduation ceremony..” ucapanku menggantung lalu dia tertawa.

“Jangan ketawa deh..” ucapku sedikit malu.

“Ihhh abisnya aku pengen ketawa mulu” gumamnya sambil menahan senyum.

“Serius dong.. Aku mau ngomong nih” ucapku. “Oke oke.. Aku serius..” Ucapnya kemudian kami terdiam.

Kami terdiam selama beberapa detik.

Lantunan lagu kangen dari dewa 19 terdengar nyaring di telinga kami, aku pun mengambil jeda untuk memulai percakapan serius ini yang sebenarnya telah dia ketahui apa yang akan aku katakan.

Aku menarik napas memulai pembicaraan.

“Kamu taukan, aku sering ceritain orang yang aku suka ke kamu, dan selama kurang lebih 6 atau 7 bulan aku pendam perasaan ini.

Sebenernya orang yang aku suka itu kamu, aku pendem perasaan aku selama sekian bulan ke kamu.

Aku suka kamu. Aku sayang kamu. Dan perkataan aku saat itu, aku ga pernah serius untuk ninggalin kamu.

Aku sayang sama kamu. Maafin aku. Aku ga bener-bener ingin pergi dari kamu.

Satu hal lagi, aku titip pesan, kalau suatu saat kamu nemuin seseorang yang lebih baik dari aku, tolong bilang ke aku.

Aku mohon bilang sama aku, ya? Aku akan jaga perasaan aku untuk kamu. Aku sayang sama kamu.” Ucapku mengakhiri kalimatku dengan embusan napas pelan.

Tidak ada jeda sejenak ia langsung bertanya suatu hal padaku “Aku boleh meluk kamu ga ?” tanyanya.

Aku menatap dia, matanya berwarna merah seperti ingin menangis.

Iris matanya yang berwarna coklat terang selalu membuatku terhanyut dalam tatapannya. “Boleh” jawabku singkat.

Namun yang terjadi hanya diam diantara kami tak ada yang melakukan apa pun.

Setelah beberapa detik terdiam aku membawanya pergi ke suatu tempat yang sepi.

Lagu berikutnya yang terdengar mengalun masih bertema kerinduan.

Saat ini aku hanya ingin berdua dengannya saja.

Menghabiskan waktu hanya dengannya dan menceritakan segala rasa yang kami miliki, hanya bersamanya.

Kami menghabiskan waktu sekian jam untuk berfoto dan menikmati alunan lagu yang dinyanyikan band band sekolah.

Entah apa yang saat itu sedang kami bicarakan tiba-tiba saja dia menanyakan suatu hal yang sangat sulit aku jawab.

“Boleh ga aku cium kamu ?” aku terdiam seribu bahasa menatapnya.

Dalam hati aku mengatakan ya tapi sulit untuk aku ucapkan.

Aku malah tersenyum canggung dan dia memalingkan wajahnya.

“Aku boleh peluk kamu?” tanyaku padanya sedetik kemudian.

“Ngga..” jawabnya singkat. “Kenapa ? Karena aku ga jawab pertanyaan kamu tadi ?” dia terdiam membisu lalu tersenyum.

Ingin rasanya aku memeluk tubuhnya lagi mengingat kami akan sulit bertemu untuk kedepannya.

Aku akan sangat merindukannya. Itu pasti.

Setelah sekian lama kami berbincang dan hari pun akan beranjak sore, aku berpamitan pulang padanya meski sebenarnya sangat berat untuk aku pergi saat ini.

“Makasih untuk hari ini, maaf kalau aku bikin kamu risih atau malu.. Maaf kalau aku bikin kamu ga nyaman” ujarku padanya saat kemudian aku akan segera pulang. Dia mengangguk.

“Iya makasih juga.. Aku ga risih atau pun malu kok..” Ujarnya dengan senyuman yang seperti biasa.

“Oke kalau gitu aku pulang dulu, ya..?” pamitku lagi. Dia mengangguk.

“Dahh.. I love you..” bisikku padanya lalu pergi sambil tersenyum.

Aku melihat dia membeku dalam berdirinya dan tersenyum.

Entahlah apa yang dia rasakan namun jelas yang aku rasa adalah bahagia.

Tapi kebahagian itu tak berlangsung lama.

Beberapa hari setelah itu, dia menjadi berubah dia kembali menjadi Mario yang bukan aku kenal.

Dia sangat cuek terhadapku. Dan lagi-lagi dia mengatakan kalau aku hanya temannya.

“Waaaa perjuanganmu..” ujarnya saat aku melakukan sesuatu hal untuknya.

“Iya aku berjuang untuk kamu, aku akan lakuin hal yang aku mau dan ini buat aku semangat” ucapku padanya.

“Aku seperti orang yang sangat istimewa buat kamu” ucapnya.

Aku terdiam tak mampu berkata apa pun. Jelaslah sudah dia memang sangat istimewa bagiku, dia spesial..

Aku sangat menyayanginya tapi aku tidak tau apa perasaanya padaku.

“Jangan berpikir begitu, apa yang harus aku katakan kalau kita just a friend?” ucapku padanya yang mungkin membuatnya sakit karena memang kami hanya teman aku tau hal itu, dia tidak ingin kami pacaran tapi aku hanya ingin dia menganggapku sama seperti aku menganggapnya meskipun bukan pacar.

Kini kami hanya saling terdiam.

Aku meremas jemariku sendiri resah dengan suasana beku seperti ini.

Dia masih menatapku namun aku tak berani menatapnya.

Hari akan beranjak malam.

Semburat jingga hampir tenggelam di peraduannya, burung-burung berkicauan hendak pergi ke sarangnya masing-masing, orang-orang berlalu-lalang sibuk dengan kegiatannya.

Kami masih terdiam belum ada yang bisa mencairkan suasana atau mungkin tidak akan mencair lagi.

Berkali kali aku mengatakan aku merindukannya tapi dia sama sekali tidak menggubris perkataanku.

Biasanya dia mengatakan hal yang sama denganku bahwa dia juga merindukan aku meskipun secara tersirat.

Tapi kali ini apa? Dia malah membahas hal lain.

Aku tau mungkin dia sedang dalam masalah dan aku tidak tau masalah apa yang dia lalui saat ini.

“Sure, I am sorry, I am just scared” ujarnya kemudian dengan wajah yang murung.

“Aku tau, aku tau apa yang kamu rasain” ucapku memberanikan diri untuk menatapnya.

“Apa?” tanyanya.

“Kamu takut, takut, takut, kamu takut dikecewakan dan mengecewakan.” jawabku sedikit tercekat di akhir kalimatku.

Dia terdiam. Beberapa orang sedari tadi berlalu-lalang melewati kami yang sedang duduk di meja kafe pinggir jalan.

“We are friend, jangan berpikiran negatif, ya?” ucapnya sangat sukses membuat jantungku akan copot.

Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia katakan berpikiran negatif apa yang dia maksud.

Alisku saling bertautan dan dahiku mengerut.

Aku sama sekali tidak menganggapnya sebagai pacarku, aku hanya menganggapnya orang yang spesial apakah itu salah?

Apa aku salah telah menyayanginya?

Dibanding bagaimana perasaanku terhadapnya dan perasaan dia terhadapku dia malah lebih mementingkan status yang kita pegang saat ini.

Tentu saja hal Itu sangat membuatku sakit.

Tidakkah dia berpikir kalau dia benar-benar sangat membuatku sakit?

Aku sayang padanya tapi mengapa dia begitu melukaiku?

Jika mencintaimu saja sesakit ini, aku tidak akan pernah ingin memilih untuk terjatuh padamu.

Jika saja aku bisa mengatur perasaan cintaku pada seseorang aku tidak akan susah payah merasakan sakit karena tidak bisa memiliki.

Sungguh hatiku hancur. Aku bergumam dalam hati.

“Ya.. kita teman, kita hanya teman.. Dan tidak akan lebih dari itu..” ujarku sambil tersenyum miris entah mengapa aku merasa bahwa waktu berjalan begitu lambat.

Dia terdiam menahan rasa sakitnya juga.

“Terima kasih sudah membuat aku terluka.

Terima kasih atas anggapanmu hanya teman terhadapku.

Terima kasih. Aku tau tidak seharusnya aku berharap.

Tidak seharusnya aku mencintai kamu. Tidak seharusnya aku berbicara dengan siapa pun.

Terima kasih telah membuat aku terluka, terima kasih karena telah menyadarkanku.

Terima kasih karena seharusnya aku sendiri. Tidak seharusnya aku membuka hatiku untuk siapa pun termasuk kamu.

Aku tidak bisa mempercayai siapa pun lagi termasuk kamu.

Aku hanya ingin sendiri. Tinggalkan aku. Aku ingin sendiri.” ujarku kemudian bangkit dan mendorong kursi yang aku duduki dengan badanku.

Aku pergi tanpa menatapnya lagi menjauh darinya dengan linangan air mata.

Aku berlari tanpa mengindahkan dia yang berteriak memanggil namaku.

Angin menerpa tubuhku dan menerbangkan harapan kosong yang selama ini aku genggam erat.

Aku tidak tau haruskah aku melepaskan genggaman kosong itu atau aku genggam lebih erat agar aku dapat merasakan sakit lebih dari ini?

Semburat jingga yang tadi hampir tenggelam menyisakan guratan oranye dengan langit keungu-unguan nampak begitu indah seakan mengejek takdir yang tidak berpihak padaku saat ini.

Aku merasa langit akan runtuh menerpa tubuhku saat ini yang sedang melenggang cepat di jalanan, pikiranku kacau dan air mataku terus menerus berjatuhan.

Di keramaian pinggir jalan dia memanggil namaku dan mengejarku.

Aku tau aku egois tapi mungkin maksud perkataannya itu tidak seperti yang ada di benakku.

Tapi bagaimanapun juga hatiku sakit. Aku ingin pergi menjauh darinya, aku benar-benar sakit.

Aku menutup mataku beberapa detik merasakan terpaan angin yang menyapu wajahku lembut sambil berlari mengabaikan beberapa orang yang tak sengaja aku tabrak.

Suaranya masih terdengar mengejar dan memanggilku, aku semakin mempercepat langkahku saat kemudian aku mendengar…..
Brakkkkkkkkkk. Tiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnn…. Tinnnnnn………. Tiiiiiiiinnnnnnnnn…….

Aku menghentikan langkahku lalu membeku, aku masih terisak-isak menangis suara gaduh semakin memenuhi kepalaku aku beranikan diri menoleh ke belakang memastikan apa yang tengah terjadi saat aku membalikkan tubuhku kaku, aku melihat kerumunan orang-orang tak jauh dari depanku saat ini.

Hatiku berubah tak enak lalu aku berlari pelan kemudian semakin cepat mendekati kerumunan itu saat aku melihat apa yang mereka juga lihat, rasanya bola mataku akan keluar dari sarangnya.

Aku menutup mulutku dengan kedua telapak tangan.

Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang, itu adalah tubuh Mario terbujur kaku dan berlumuran darah.

Dia diangkut oleh beberapa orang menuju mobil ambulans yang baru saja datang dan suara sirinienya memekakkan telinga.

***

“Kenapa kamu mengingat hal itu?” tanyanya yang tengah menyuapiku makan.

Sepertinya dia sadar sedari tadi ia mengajakku bicara dan aku hanya terdiam aku merasa ada yang berbicara denganku namun aku mengabaikannya karena aku tiba-tiba saja teringat kejadian itu.

Saat dimana aku harus kehilangan lelaki yang aku cintai.

Aku tertegun tenggorokanku tercekat tak ada kata yang dapat keluar dari dalam sana.

Aku lupa kalau dia bisa membaca apa yang ada dalam benakku.

Aku menatapnya lalu air mataku kembali turun.

“Maafkan aku.. Maafkan aku… Itu semua salahku.. Maafkan aku..” gumamku sambil menutup wajah menyembunyikan air mataku darinya.

Dia menyimpan piring yang terdapat beberapa suap nasi lagi di sana.

Dia menunduk lalu menarik tanganku.

Aku menatapnya yang dia juga menatapku.

“Aku ini hanya temanmu, kan? Dan tidak bisa lebih dari sekadar teman..” aku mengatakan hal itu dengan pelan sambil menahan semakin banyak lagi air mata yang keluar.

Dia menutup kelopak matanya menahan tangis.

“I am sorry.. I am just scared” hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Aku menunduk aku tau aku tidak bisa memiliki orang yang sangat aku sayang ini bahkan mungkin tidak akan pernah.

“Aku menyayangimu Mario.. Sangat.. Tidak bisakah aku menjadi orang spesial bagimu meski aku tau kamu menyayangiku?” aku kembali menangis kini air mataku semakin deras.

Mario hanya menatapku dengan wajah sendu, apa yang harus dia lakukan saat ini dia sama sekali tidak tau apalagi sekarang kami sudah berbeda, ya dunia kami berbeda meski aku masih bisa melihat dan menyentuhnya, itu takan sama seperti dulu saat aku masih bisa merasakan degup jantung dan hangat tubuhnya.

Sekarang aku tau apa yang lebih sakit daripada ditinggalkan dan dikhianati, mencintai seseorang tanpa bisa memilikinya.

Percayalah, itu lebih sakit dari apa pun.

Dan sekarang aku mengerti rasa sakit ibuku, selain dikhianati dan ditinggalkan ibuku sakit karena seseorang yang sangat dia cintai tidak bisa dia miliki lagi.

Kini aku akan benar-benar menarik diriku dari keramaian, aku tidak ingin membuka hati untuk siapa pun lagi.

Aku tidak ingin mencintai siapa pun lagi dan aku tidak ingin percaya pada siapa pun lagi.

Aku hanya ingin sendiri. Aku benar-benar ingin sendiri.

Tinggalkan aku, jangan melihatku dengan tatapan menyedihkan, aku hanya ingin sendiri. Leave me alone. Solitude. (*)

*) Anita Nurhayati
May, 01 2018