zonamuda — Siapa tak kenal Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan Indonesia ini dua kali dinominasikan menerima Nobel.

Idealisme dan keberanian Pram mengkritik kebijakan pemerintah melalui karyanya membuatnya menghabiskan hampir separuh hidupnya di balik tahanan dan penjara.

Pria kelahiran Blora, Jawa Tengah, 2 Februari 1925 ini menekuni dunia sastra sejak di bangku sekolah dasar.

Di era Presiden Soekarno, misalnya, ia masuk bui karena bukunya Hoakiau di Indonesia yang mengkritik kebijakan bagi etnis Tionghoa.

Pada 1965, Pram diasingkan di Pulau Buru karena kiprahnya sebagai redaktur harian terbitan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) bentukan Partai Komunis Indonesia.

Pada era Orde Baru, Pramoedya Ananta Toer kembali dijebloskan ke penjara selama 15 tahun karena tuduhan subversif.

Hukuman penjara tanpa persidangan itu membuat Pram harus rela tidak bertemu dengan anak-anaknya yang sedang tumbuh kembang.

Hidup di balik jeruji tak membuat Pram kehilangan semangat. Ia terus menelurkan berbagai karya sastra. Di antaranya tetralogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

Sosok Pram juga penuh dengan kontroversi. Ketika mendapatkan Ramon Magsasay Award pada 1995, sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia, di antaranya Mochtar Lubis, Taufik Ismail dan H.B. Jassin menulis surat ‘”protes'” ke yayasan Ramon Magsasay.

Mereka menuduh Pram sebagai “pembunuh” sastrawan yang berada di luar Lekra.

Seorang sastrawan netral seperti Iwan Simatupang dalam surat-suratnya termasuk yang mengeluhkan sepak terjang orang-orang Lekra yang dipimpin Pram.

Di usia tuanya, Pram terus berkiprah. Karya terakhirnya, Jalan Raya Pos, Jalan Daendles diterbitkan Oktober 2005.

Dalam kondisi sakit, Pram juga terus mengerjakan sebuah ensiklopedia yang menjadi ambisinya.

Sampai akhir hayatnya Pramoedya Ananta Toer dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak, Pejompongan, Jakarta Pusat.

Membaca Pram, Membaca Indonesia
Saat zaman represi pada era Orde Baru, karya-karya Pram diberangus.

Aktivitas Pram di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berhaluan kiri setidaknya memengaruhi pandangan orang tentang karya-karyanya yang dianggap berbau komunis.

Namun, Hasta Mitra berani menjadi penerbit progresif yang pertama kali menerbitkan karya-karya Pram pada zaman Soeharto.

Meski, para pembaca kala itu perlu sembunyi-sembunyi untuk bisa menikmati perenungan Pram dalam karya-karyanya.

Zaman bergulir, pada era Reformasi karya Pram justru bukan hanya menjadi bacaan sastra, melainkan menjadi potret lengkap kehidupan sosial, politik, dan sejarah masyarakat Indonesia yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dipelajari banyak orang, termasuk Max Lane, kritikus sastra asal Australia.

Max Lane merupakan orang pertama yang memperkenalkan karya-karya Pram kepada dunia pada zaman Soeharto.

Dirinya bahkan adalah orang yang menerjemahkan tetralogi Pulau Buru ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan di Inggris, Australia, dan Amerika.

Dari pergumulan bertahun-tahun melalui proses menerjemahkan dan interaksinya dengan banyak karya Pram, hingga diskusi langsung bersama Pram, Max menuliskan analisisnya yang dikumpulkan dan dituangkan ke dalam buku Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia yang diterbitkan Penerbit Djaman Baroe, Yogyakarta, dan diluncurkan Sabtu (12/8/2017), oleh Dewan Kesenian Jakarta di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki.

Buku tersebut berisi esai dan artikel yang berupaya memberi gambaran umum tentang karya-karya Pram, menganalisis berbagai ide Pram tentang sejarah Nusantara, asal-usul Indonesia sebagai bangsa, dan tentang hubungan antara kasta dan kelas.

Dalam bukunya, Max mengungkapkan setidaknya bangsa Indonesia perlu paham, ada pesan terselubung dari Pram untuk pembaca tentang apa yang harus disadari dalam menghadapi masa depan Indonesia. luvi

Foto: internet, sumber artikel: liputan6.com