OLEH: Anita Nurhayati

SEKALI lagi aku mengembuskan napasku perlahan menikmati sentuhan lembut angin petang yang sedari tadi menyapaku.

Aku kembali menarik napas merasakan udara yang perlahan masuk melalui hidung kemudian memasuki paru-paru.

Aroma tanah khas setelah hujan pertama pekat memenuhi rongga penciumanku dan aku nikmati itu.

Aku merasakan sesuatu dari sudut mataku perlahan turun membasahi pipi kemudian bermuara di dagu.

Aku mengembuskan napas kasar melalui mulut kemudian membuka mataku.

Aku melihat dari lantai tiga seluruh kampusku, kukemudikan pandanganku tanpa bergerak sedikit pun.

Tanganku saling bersilangan di atas balkon yang tingginya tidak melebihi dadaku.

Aku bergumam dalam hati kemudian tersenyum dan menutup mata. Butiran bening dari sudut mataku kembali tumpah dan aku segera menyekanya.

Apa ini? perasaan macam apa ini? kenapa aku belum bisa melupakannya sampai saat ini. Kenapa?

Apakah pantas aku jatuh cinta kepada seseorang seperti dia? rasanya tidak mungkin kami bersatu karena kami…

Aku terus menggumamkan pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu jawabannya.

Kurasakan lagi angin menerpa seluruh tubuhku dan menggoyangkan dedaunan di sekitar kampus. Aku menunduk mencoba mengalihkan perasaan bimbang ini.

Sepi. Tak ada seorang pun di bawah sana, hanya kulihat lapangan dan kampus yang berbentuk persegi panjang saja.

Mungkin sudah tidak ada seorang pun di sini selain aku karena memang saat ini sudah menunjukkan pukul 17.30 tidak seperti hari biasanya jika para mahasiswa masih menghuni kampus sampai malam, hari ini kampus dibubarkan lebih awal entah apa alasannya aku sendiri pun tidak terlalu memikirkan hal itu.

Aku kembali mengangkat kepalaku saat kemudian ada sepasang tangan menutupi kedua mataku dari belakang.

Sontak aku terkejut dan memutarkan badanku menghindarinya dan menghadap padanya.

Setelah aku tahu siapa orang itu, aku kemudian mengelus dadaku sebagai pertanda bahwa aku sangat terkejut akan sikap kekanak-kanakkannya.

Dia malah tertawa melihat reaksiku. “Ketawa kamu, lucu emangnya?” tanyaku sinis sambil memajukan mulutku.

“Luculah.” Ucapnya masih tertawa. Aku memasang wajah cemberut sambil menatapnya yang terus menertawakanku. Namun kemudian aku ikut tertawa karena melihatnya.

Entah mengapa dia selalu membuatku tertawa meski terkadang dia menyebalkan seperti saat ini.

Setelah merasakan lelah, kami menghentikan tertawa yang tanpa alasan itu kemudian aku tersenyum karena melihat wajahnya yang begitu manis.

“Ngapain kamu masih di sini?” tanyanya padaku. Aku kembali memutarkan tubuhku perlahan menatap lurus ke depan.

Dia memosisikan dirinya di samping kiriku dan melakukan hal yang sama denganku, melipatkan kedua tangannya di balkon.

“Pengen aja, mumpung gak ada orang.” Jawabku. “Gak takut?” tanyanya lagi.

Aku menggelengkan kepala. Hening menyambut kami setelah gelengan kepala.

Kami sibuk dengan pikiran masing-masing kemudian dia menatapku yang aku lihat dari sudut mataku.

Aku refleks menoleh padanya yang setelah beberapa detik menatapku. Dia tersenyum sangat manis seperti biasanya.

Aku memalingkan pandangan mataku ke arah yang lain karena jujur saja, tatapan dan senyumannya itu selalu membuatku tersipu malu.

“Kenapa?” tanyanya masih dengan posisi yang sama. Aku kembali menggeleng namun kali ini dengan senyuman malu.

“Jadi itu senyuman baper kamu?” tanyanya sangat membuatku bertambah malu.

“Apa sih kamu, panda sana jangan liatin aku mulu.” Ujarku sambil mendorong pipinya untuk tidak menatapku.

Namun dia malah memegang tanganku. “Sok romantis kamu.” Ucapku yang kemudian dia melepaskan tanganku lalu menatap ke arah yang lain.

“Iya gak apa-apa aku kan gak romantis jadi, sok romantis gak apa-apalah.” Ujarnya sambil sedikit tertawa. Aku tersenyum.

“Kamu tahu dari mana kalau aku masih di kampus?” tanyaku sambil memandangnya yang menatap ke depan.

“Tahu aja..” jawabnya singkat. “Aku nanya dari mana, malah dijawab tahu aja..” ujarku sambil menyubit pelan lengannya.

“Iya tahu aja lah.. masa sih calon suaminya gatau keberadaan calon istri di mana,” godanya sambil menaikkan kedua alisnya dan tersenyum menggodaku.

“Apa sih kamu.” ucapku lalu berjalan menjauhinya. “Ehh mau kemana? main ninggalin aja.” Ucapnya.

“Pulang.” Jawabku singkat. Terdengar langkah kakinya mendekatiku dan diiringi badannya yang mengimbangi langkahku.

“Aku anter ya, udah mau malem.” Tawarnya. Kami berjalan menyusuri selasar kampus kemudian menuruni anak tangga yang sudah mulai gelap.

Aku melihat ada civitas kampus yang mulai menyalakan lampu dan menutup pintu-pintu di lantai dua. Tangga demi tangga kami turuni tanpa perbincangan apa pun.

“Ada apa sih? jangan lama-lama aku masih harus rapat.” Ucap seseorang tiba-tiba yang suaranya sudah familiar di telingaku.

Aku menoleh padanya yang membuyarkan lamunanku. Dia duduk di hadapanku sambil membuka jaketnya.

Aku masih menatapnya yang kemudian dia menyilangkan tangannya di atas meja sambil menatapku.

Aku tahu arti tatapan itu seakan dia sangat terganggu karena waktunya tersita olehku yang beberapa menit lalu menghubunginya karena ingin bertemu.

“Sebelumnya maaf karena aku hubungi kamu mendadak, aku tahu kok kamu lagi sibuk..” Ucapanku terpotong olehnya.

“Iya iya cepet mau ngomong apa gak usah basa basi.” Tegasnya dengan raut muka seperti jijik padaku.

Mulutku mengatup seketika sambil menatapnya kemudian kedua alisku saling bertautan.

“Kamu kenapa, sih? aku salah apa sampai kamu kayak gini ke aku? kamu bosen sama aku? bilang jangan diem-diem kayak gini!” Aku berbicara tanpa rem dengan nada yang cukup tinggi.

Untung saja di kantin rumah sakit tidak banyak orang sehingga aku tidak terlalu malu untuk menegurnya seperti itu. Dia menatapku tajam.

“Udah? itu aja yang mau kamu omongin?” Tanyanya yang membuatku semakin kesal akan perubahannya itu, aku diam tidak menjawab apa pun.

“Aku kan udah bilang ke kamu jangan childish, Maura.. kamu kenapa, sih?” Ucapnya dengan nada dingin.

“Aku? kenapa? kamu yang kenapa, Rico udah seminggu ini kamu gak pernah hubungi aku, kamu bersikap biasa aja ke aku.

Padahal sebelumnya kita deket banget. Kamu kenapa?” tanyaku dengan tatapan sinis.

“Aku gak apa-apa, kamu aja yang baperan.” Jawabnya enteng. Aku menarik napas panjang kemudian mengembuskannya kasar.

“Yang kayak gitu kamu bilang gak apa-apa? Kamu gak sadar kalau kamu berubah?” tanyaku.

Alisnya saling bertautan dan dia memalingkan pandangan dariku kemudian kembali menatapku tajam.

“Apa hak kamu nanya gitu? ini diri aku suka-suka aku dan lagi, kamu siapa nanya kayak gitu ke aku?” pertanyaan dia yang mampu menikam hatiku membuat aku terdiam.

Aku merasakan pipiku panas dan mataku perih. Rahangku mengeras kemudian aku berdiri sambil menggebrak meja lalu menatapnya.

“Aku emang bukan siapa-siapa kamu, Rico. Tapi kamu harus inget kalau kita udah terikat komitmen.

Aku harap kamu gak lupa itu!” Aku kemudian pergi setelah berbicara. Aku sangat kesal padanya.

Padahal dulu dia sangat baik padaku namun saat ini mengapa jadi begini. Aku sungguh kecewa padanya.

Aku merapatkan mantelku karena udara dingin mencoba menikam tubuhku yang semakin kedinginan.

Aku berjalan dengan cepat, pikiranku sudah tidak waras sepertinya. Aku memikirkan banyak hal dan merutuki dirinya yang bersikap jahat padaku.

Aku menahan air mataku agar tidak terjatuh dan sia-sia saja menangisi lelaki sepertinya.

Keesokan harinya, aku tak sengaja melihat dia sedang mengobrol di selasar rumah sakit bersama seorang perempuan.

Aku menghentikan langkahku dan berusaha mendengarkan atau melihat gerak-gerik Rico karena bagaimanapun kami masih terikat dengan komitmen.

Aku memerhatikannya dari kejauhan entah apa yang sedang mereka bicarakan namun mereka nampak sangat dekat.

Hatiku sakit melihat kejadian itu apalagi saat aku lihat dia membenarkan poni perempuan itu yang terjatuh menutupi matanya.

Aku langsung pergi menghampirinya dan sengaja lewat di hadapannya. Rico nampak kaget akan keberadaanku yang tiba-tiba saja lewat di hadapannya.

Jujur saja hatiku sangat sakit melihatnya, pantas saja selama ini dia bersikap dingin padaku.

Jika alasan dia adalah perempuan itu, mungkin aku akan mundur. Aku tidak usah lagi mencari tahu tentang dirinya lagi.

Semua yang aku lihat sudah jelas menjawab semua pertanyaanku tentang sikapnya yang berubah drastis. Cukup sudah. Aku muak.

Aku perlahan membuka pintu rumahku yang memang di sana tidak ada siapa-siapa tapi aku langsung tersadar bahwa di sana ada orang selain aku setelah aku mendengar suara benda jatuh di dapur.

Aku perlahan beranjak ke dapur mencari tahu ada apa di sana. Dan saat aku menemukan ada seseorang di sana aku tahu siapa dia hanya dari melihat tubuh belakangnya saja.

Dia menoleh ke arahku kemudian tersenyum dan menyapaku. “Ehh udah pulang? sini makan dulu, aku udah masakin sesuatu buat kamu,” ujarnya sambil menatapku.

Kami berhadapan kurang lebih dua meter saja namun aku dengan malasnya hanya menjawab ajakannya dengan gelengan.

“Mau kemana?” tanyanya saat melihatku hendak beranjak. “Ke kamar. Anyway gimana caranya abang masuk ke sini?” tanyaku padanya yang baru terlintas dibenakku.

“Itu, gak penting. Gampang aja kok bagi aku” ucapnya santai sambil menghampiriku. “Dasar stalker.” gumamku yang hanya dijawab senyuman.

Aku hendak beranjak yang kemudian dia menahanku dengan pernyataannya.

“Ada yang mau aku omongin.” Ucapnya yang mampu membuatku menuruti perkataannya.

Dan di sinilah aku sekarang, duduk saling berhadapan dengannya di meja makan.

Dia menyajikan mie ramen kesukaannku dan masih panas. Seketika sel goblet dalam mulutku mensekresi mucus ketika aku mencium aromanya dan aku baru saja akan melahap mie pedas itu namun dihadang olehnya.

Dia mencengkram pergelangan tanganku memberi kode bahwa kita harus berdoa dulu dan aku menurutinya.

Setelah selesai berdoa, aku langsung menyantap makananku yang terasa panas di mulut.

Dia masih belum menyantap mie ramennya dan masih menatapku yang sangat bersemangat untuk makan.

Setelah beberapa suap, dia menyodorkan sebuah kertas di samping mangkuk ramenku.

Aku menatap kertas yang lebih tepatnya undangan pernikahan. Aku menatap matanya dan menghentikan pergerakan makanku.

“Gimana menurut kamu, desainnya bagus gak? kamu suka gak?” tanyanya.

Aku terdiam selama beberapa detik kemudian menatapnya dengan tajam.

“Untuk apa kamu nanya itu ke aku? apa urusannya dengan aku? itu kan pernikahan kamu. Urus aja sendiri.”

Dengan ketus aku menjawab pertanyaannya kemudian selera makanku hilang.

Aku langsung pergi ke kamar dan menutup pintu dengan keras.

Aku mengempaskan tubuhku ke kasur kemudian menutup mataku sejenak dan membukanya lagi.

Aku merasa kepalaku sangat sakit dan tak terasa air mataku mengalir ke pelipis kepala.

Aku terduduk kaget kemudian menatap mataku di depan cermin. Aku menangis. Hatiku sakit. Kenapa ini terjadi lagi.

Aku belum bisa melupakan dia. Sekarang dia akan menikah dengan seseorang yang lebih baik dariku lalu mengapa aku menangis.

Dia adalah kakakku meski bukan kakak kandung, aku tidak pantas bersanding dengannya.

Salahku sendiri yang malah menyukainya sudah tahu dia adalah kakakku dan aku tetap saja memaksakan kehendak hingga akhirnya aku diusir dari rumah karena mama menolak hubungan kami.

“Aaaggghhh Tuhan ini sangat berat.. Aku harus menyaksikan pernikahan orang yang sebenarnya masih aku cintai, kakakku sendiri,” aku menutup mataku merasakan butiran bening itu mengalir di pipiku.

Tiba-tiba saja kakakku mengetuk pintu dan aku malas meladeninya. “Maura.. buka pintunya, kamu kenapa?” tanyanya.

“Dasar bodoh!! pergi saja sana! tidak berperasaan!” aku merutukinya dengan perkataan kasarku, aku tahu itu pasti menyakitinya namun hatiku sekarang yang lebih sakit. “Maura..” panggilnya lagi.

Aku sudah tidak ingin mengatakan apa pun. Sampai akhirnya suara mengganggunya itu menghilang entah kemana.

Aku merebahkan tubuhku yang sangat lelah hingga tak terasa aku mulai menutup mataku.

Aku semakin mempercepat jalanku tak peduli apa yang aku lewati yang jelas aku tidak ingin telat absen di ruangan kerjaku.

Semuanya karena aku kelelahan, pikiranku jadi kacau sehingga aku bangun kesiangan.

Beruntung tadi pagi kakak tidak mengocehku karena sebelum dia berkata-kata aku sudah menyemprotnya dengan perkataan pedas dan itu mampu membuatnya terdiam.

Namun saat aku teringat, aku lupa menaruh ponselku di mana hingga akhirnya aku mencari di tasku sambil berjalan.

Tiba-tiba saja aku bertabrakan dengan seseorang dan ya, dia adalah perempuan yang kemarin aku lihat bersama dengan Rico.

Mulutku mengatup seketika saat hendak mengucapkan kata maaf. Dia tersenyum yang aku tahu senyumannya itu tidak tulus dan seolah meremehkanku.

Dia adalah temanku tapi aku tidak mengerti mengapa dia bersikap seperti itu bahkan dia merebut seseorang yang dekat denganku—Rico.

“Maaf” ucapku kemudian dia tersenyum lagi dan berlalu. “Menyebalkan!” umpatku kemudian kembali berjalan sambil mencari ponselku lagi.

Akhirnya aku bisa duduk tenang sambil memakan makan siangku. Aku sangat gembira hari ini karena pekerjaanku sudah selesai rasanya semua masalah kemarin-kemarin hilang begitu saja dalam benakku.

Saat aku baru saja mau mengangkat satu suapan pertama nasi padangku, tiba-tiba saja Rico datang sambil tersenyum.

“Nanti sore gak ada acara, kan? bisa kita janjian di kafe yang biasa?” ajaknya.

Aku mengerenyitkan dahi tak mengerti mengapa dia bisa sebaik itu setelah beberapa lama sangat dingin padaku. “Em…oke..” jawabku singkat.

“Jangan telat, ya.” Tutupnya dengan senyum kemudian keluar dari ruanganku.

Aku tertegun entah setan apa yang menguasai tubuhnya saat ini.

Aku mengangkat kedua bahuku menyingkirkan beberapa dugaan yang masih mengambang kemudian meneruskan suapan pertamaku.

Sore harinya aku datang lebih awal dari jam yang sudah dijanjikan. Itu memang kebiasaanku selalu datang 10 menit sebelum jam yang telah ditetapkan.

Aku melepas mantel kesayanganku yang berwarna hijau tua dan aku simpan di bahu kursi tempatku duduk.

Di luar gemuruh saling bersahutan bersamaan dengan suara angin dan hujan yang menambah kelam suasana sore ini.

Aku menyapu sekitar sambil meremas jari-jari tanganku karena kedinginan saat kemudian pandanganku berhenti di pintu masuk kafe ini.

Aku melihat Rico sudah datang dan menghampiri mejaku. Dia tersenyum yang kemudian aku membalas senyumannya.

Dia duduk di hadapanku lalu melepas jaketnya dan menanggalkannya di bahu kursinya.

“Mau pesan apa?” tanyanya sambil menatapku ramah.

“Nanti deh aku baru ngemil sebelum kesini.” Jawabku lalu tersenyum.

“Ohh ya udah aku juga nanti.” Jawabnya. Dia menatapku dalam.

Suasana di kafe lumayan ramai karena sepertinya mereka sedang menghangatkan diri sambil memesan minuman hangat di sini.

Suara gemerincing bel saat pintu terbuka terdengar samar di telingaku karena kehangatan obrolan para pengunjung kafe.

“Maaf ya untuk sikap aku kemarin-kemarin.. aku udah bikin kamu sakit hati.” Ucapnya tiba-tiba sambil menatapku yang kebingungan harus berkata apa.

“O…ohh.. iya gak apa-apa kok.. maaf juga ya aku over ke kamu..” aku mencoba untuk tersenyum meskipun terlihat aneh mungkin.

“Oiya, aku rasa kita harus mempertimbangkan lagi hubungan kita deh. Aku gak bisa meneruskan komitmen kita dulu dan aku gak bisa ngasih tahu sebabnya.”

Perkataan dia yang meluncur dengan mulus dari mulutnya terdengar di telingaku seperti dihantam benda keras. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku beberapa kali.

“A..apa maksud kamu?” tanyaku mencoba memperjelas semuanya.

Mataku terasa perih dan aku yakin air mata akan terbendung sebentar lagi di sana, pipiku juga mulai memanas disertai dengan detak jantungku yang tidak karuan seakan mau copot saja.

“Kita gak bisa barengan lagi. Aku harap kamu gak usah hubungi aku lagi.” Tegasnya.

Aku kaku tak mampu mengucapkan satu patah kata pun bahkan untuk bergerak rasanya berat. Tiba-tiba dia bangkit kemudian membawa jaketnya.

“Jangan ganggu aku lagi.” Itu kata terakhir sebelum dia pergi. Lonceng bel bergemerincing nyaring dan aku masih menatap ke depan sedangkan di sana sudah tidak ada Rico lagi.

Air mataku tumpah kemudian aku memalingkan pandangan ke bawah meja saat kemudian aku melihat kaki seseorang berdiri di hadapanku.

Refleks aku menengadah ke atas dan menemukan wajah kakakku di sana. “Abang Zehan.. kenapa ada di sini?” Tanyaku tergagap.

“Itu, gak penting.” jawabnya sambil menatapku. “Abang ikutin aku lagi, ya?” tebakku.

Bukannya menjawab dia malah duduk di kursi di hadapanku. Aku menatapnya.

“Aku khawatir terjadi sesuatu sama kamu makanya aku ikutin kamu sampai sini.” Jelasnya.

“Jadi abang ngeliat semua kejadian tadi?” tanyaku. Dia mengangguk dengan santai.

Aku mendengus kesal air mataku kembali meluncur dan aku menghapusnya sambil memutarkan kedua bola mataku.

“Jangan ganggu aku. Aku pengen sendiri.” Ucapku seketika. Dia masih di hadapanku, suaraku mulai meninggi.

“Aku yang pergi atau abang yang pergi?” tanyaku lagi dan dia masih tidak menjawab.

Aku mendengus kesal lagi kemudian berdiri dan pergi meninggalkannya.

Aku tak peduli sedingin apa di luar sini yang aku tahu aku hanya ingin pergi jauh dari semua orang sampai akhirnya seseorang berhasil meraih tanganku.

Dia membalikkan tubuhku kemudian memelukku sangat erat. Untuk beberapa detik aku tertegun akan sikapnya padaku namun kemudian aku mendorong tubuhnya kesal.

“Maksud abang apa, sih? abang tahu kan aku lagi kesel? terus kenapa abang malah ikutin aku? aku benci sama abang! aku benci!” aku mulai menangis tak mampu lagi menahan air mataku.

Di sini sepi dan udaranya dingin. Aspal dan juga bangunan serta benda-benda di sini basah karena terguyur hujan beberapa menit yang lalu.

“Kamu boleh benci sama aku, Maura. Tapi asal kamu tahu, perasaan aku ke kamu tetap sama kayak dulu. Aku masih cinta sama kamu!” ucapnya.

Aku tertegun dengan penuturan yang keluar dari mulutnya. “Jangan sok menghibur aku!! Urus aja tuh pernikahannya! pergi sana aku gak mau ketemu abang lagi!!!” teriakku padanya.

“Seperti apa yang kamu minta, aku akan pergi demi kamu tapi aku mohon terima ini sebagai tanda sayang aku ke kamu.” Ucapnya sambil menyerahkan sebuah kotak padaku.

Aku menerima itu sambil gemetar tidak menyangka bahwa dia akan pergi untuk kedua kalinya.

Dia berlalu melewatiku kemudian berlari menjauh. Aku perlahan membuka kotak itu dan di sana aku melihat satu batang coklat dan sebuah surat undangan pernikahan.

Aku mengambil coklat itu kemudian melihat ada kertas menyembul dari dalam bungkusan cokelatnya.

Aku menarik kertas tersebut kemudian menemukan sebuah tulisan dengan tinta merah bertuliskan “Mereka bilang pelangi setelah hujan itu sangat indah tapi aku ragu karena yang aku tahu kamulah keindahan itu.”

Air mataku kembali mengalir saat kemudian melihat surat undangan itu bertuliskan namanya dan namaku.

Aku tertegun membaca nama yang tercetak di atas undangan itu adalah nama kami, aku tidak percaya sampai beberapa kali aku mengulang membacanya sampai aku yakin bahwa di sana memang tertera namaku dan namanya.

Itu berarti mama dan keluargaku merestui hubungan kami. “Dia benar, dia menepati janjinya.

Dia berjuang selama ini untuk hubungan kami. Sedangkan aku? hanya bisa marah padanya karena sudah dua tahun dia tidak juga memberitahu perkembangan hubungan kami dan aku menganggap bahwa dia selama ini hanya berbohong padaku.

Aku bodoh!!” aku merutuki diriku sendiri, aku kembali membaca kertas darinya kemudian membalikkan tubuhku mencari keberadaannya.

Kertas itu terjatuh ke aspal, perlahan tulisan dengan tinta merah itu memudar kertas itu pun menjadi basah.

Aku terus berlari tak peduli lagi apa yang aku pijak saat ini yang aku tahu aku hanya ingin segera menemukannya aku ingin bicara dan meminta maaf atas sikapku yang tidak baik padanya beberapa menit lalu dan jujur aku tidak ingin dia pergi lagi. Aku sungguh menyesal.

Aku sudah tidak memedulikan kakiku yang beberapa kali menginjak genangan air, aku terus berlari.

Rintik hujan perlahan berjatuhan kembali dan angin dingin menembus kulitku hingga ke tulang.

Rambut lurus sebahuku tertabrak angin dan hampir mengering karena sempat basah oleh hujan.

Aku sudah tidak bisa membendung air mataku lagi, ini sangat menyakitkan dan aku sangat menyesal akan hal itu.

Aku ingin bertemu dengannya kemana pun dia pergi, aku akan mencarinya karena kini aku tahu bahwa dia juga mencintaiku sampai saat ini dan sekarang aku juga tahu, cinta itu bukan tentang bagaimana cara kita mengungkapkan melaikan bagaimana cara kita menerima dan memahaminya dengan pengorbanan semua itu bisa terlewati. (*)

Anita Nurhayati, 31 Oktober 2018