Ilustrasi Kisah Tak Usai. dedi suhandi/zonamuda

OLEH: Annisa Nurjannah

ANGIN bertiup lamban. Malam berjalan semakin larut. Tak terlihat lagi lalu lalang orang di jalanan.

Hanya kami berempat di dekat rumah tua. Sesekali suara burung hantu dan lolongan anjing terdengar membuat bulu kuduk berdiri.

Kalau saja bukan karena mencari Joe, sahabat kami yang menghilang dan mendapati sebuah surat darinya dalam buku itu, aku tak ingin pergi ke tempat aneh yang ada dalam buku baruku itu.

“Aku baru tau kalau rumah di buku itu memang nyata!” ungkap Tomy menunjuk sebuah rumah di depannya yang tampak tak terurus lagi. Cat temboknya terkelupas, sebagian warnanya berubah menghitam yang lainnya tertutup tumbuhan merambat dan lumut.

“Aku juga gak ngerti.” ujarku menatap mereka yang lalu terdiam. “Siap?” tanyaku yang segera membuka pintu rumah itu. Mereka mengangguk lalu menarik napas berat.

Di dalam sangat gelap, hanya ada penerangan seadanya saja dari senter yang kami bawa. Sesekali angin malam berdesir menyentuh leher. Kuedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.

Perabot di sana masih lengkap, tertutup beberapa helai kain putih yang berlapis debu. Leon terbatuk ketika mencoba untuk membuka kain itu, debu-debu beterbangan di atmosfer.

Aku segera membuka buku yang lumayan tebal itu lalu kuarahkan senter ke atasnya, “Kita harus mencari sebuah kertas biru yang diikat oleh kain merah! Semua petunjuk terdapat di gulungan kertas itu, jadi kita harus mencarinya.

Hanya itu yang tertulis, tak ada petunjuk lain,” ujarku lalu membenarkan letak kacamata dan menatap mereka yang menganga.

“Ini gila!” dengus Tomy menatap tak percaya, “Itu tak mungkin! Maksudku, kita seperti orang bodoh yang..”

“Kenapa tidak kita coba saja? Kalau ternyata petunjuk itu tak ada, kita pulang.” Komentarku memotong ucapan Tomy, dia hanya memutarkan bola matanya.

“Kita berpisah saja, aku akan mencarinya di sudut ruangan sana,” Leon menunjukkan cahaya senter ke arah ruangan yang ia sebut, “Kau ke arah sana,” tunjuknya pada Tomy mengarah ke dapur.

“Nico dan Kirana, kalian cari di lantai dua.” Tutupnya. “Oh iya, jika kalian menemukan kertas itu, segera beri tau, oke?” tambah Leon.
Tak terdengar lagi kehidupan selain binatang nokturnal di luar sana.

Beberapa kali aku menyibakkan kain putih penutup barang itu namun tak kunjung kutemukan. Entah bagaimana caranya aku bisa mendapatkan kertas yang harus kami cari sebagai petunjuk pertama.

Kuhentikan langkah di sebuah meja kecil di hadapanku lalu membuka buku itu dan mencari petunjuk tentang keberadaan kertas misterius tersebut.

“Kita bisa mendapatkan gulungan itu di lantai pertama.” Aku segera menekan tombol send di ponselku. Kuturuni anak tangga yang mulai rapuh, tiap lantai yang kuinjak berdecit sangat mengganggu. Kami berkumpul di ruang tengah dengan napas tercekat.

“Apa kau dapat?” tanyaku menatap mereka yang menggeleng. “Sebaiknya kita cepat mencari sebelum pagi tiba.” Saranku diiringi anggukan mereka.

“Aku dapat!” jerit Kirana seraya mengacungkan sebuah gulungan kertas yang ternyata benar berwarna biru dan diikat pita merah. Kami segera mengerubunginya lalu membuka gulungan itu, “Naiklah ke lantai dua, cari sebuah kunci yang ujungnya berbentuk trisula.” Leon menatap kami memberikan isyarat untuk pergi ke lantai dua.

“Tunggu! Aku mendengar sesuatu!” Ujar Kirana lalu menghampiri suara tersebut. Kami mengikutinya dari belakang. Decit lantai tak henti berbunyi, entah suara apa yang didengar Kirana.

Kami bahkan tak mendengar apapun selain gesekan angin di dedaunan. Debar jantung seolah ingin melompat, hawa dingin menyelimuti. Kami pasang telinga setajam mungkin memprediksi suara apakah gerangan. Lututku mulai lemas, keringat dingin bercucuran.

Kirana tak henti mencengkram lengan jaketku, tubuhnya juga bergetar. Kami berjalan perlahan bak seorang detektif tengah menyelidiki seorang tersangka. Suara itu terdengar makin jelas, suara garukan dan erangan.

Entah siapa yang melakukannya. Suara itu muncul dari dekat jendela.
Tomy lalu merentangkan tangannya mencegah kami mengikutinya. Tubuhnya agak ia condongkan, langkahnya perlahan.

Dilongokannya kepala itu keluar jendela, suara itu makin nyata terdengar. Diedarkan pandangannya, namun tak terlihat apapun di sana. Suara itu berhenti seketika. Kami terdiam.

“Tak ada apapun! Sudahlah kita ke lantai dua!” Kami berbalik. Prang! Lalu terdengar gonggongan dari arah kami datang. “Argh!” teriak kami bersamaan.

Kami berlari secepat yang kami bisa lalu berhenti di lantai dua dengan napas tersengal dan jantung berdebar. Sekelebat kami melihat seekor anjing berlari keluar lewat jendela yang terbuka. Entah apa yang ia kejar.

“Sialan!” cerca Tomy yang masih memegangi dadanya yang naik turun. Kami saling bertatap.
“Anjing itu!” ujar Kirana dengan napas tersengal.

“Dia tak memiliki kepala!” Suaranya bergetar.
“Hah?? Apa katamu?” Leon menatap tak percaya.

“Aku melihatnya jelas, dia.. Berlari tanpa kepala!” suara gadis itu tercekat air matanya menggenang.

“Cukup! Kau salah lihat Kirana! Kita fokus untuk mencari kunci itu!” ujarku berniat mencairkan suasana. Mereka mengangguk, Kirana masih tampak shok, tubuhnya tak berhenti bergetar.

“Argh! Apa itu?!” jerit Kirana menunjuk sesuatu di balik gorden, membuat kami panik. Segera kami cari benda yang dimaksudnya. Nihil, tak kami temukan.

“Kirana, kau lelah! Jangan membuat kami jadi bingung. Kamu hanya berhalusinasi Kirana!” Ucap Tomy merasa jengkel atas sikap gadis itu.

“Jelas aku tadi lihat ada orang di sana! Aku ingin pulang! Aku merasa ada yang aneh. Firasatku buruk.”

“Kirana, kamu ingin bertemu dengan Joe?” kata Leon lembut pada gadis di hadapannya, Kirana mengangguk. “Kau harus kuat! Kita akan menemukan kekasihmu itu Kirana, kita janji.” Kirana lalu memeluk tubuh Leon. Tangisnya pecah.

“Lihat! Apa yang kutemukan!” Teriakku menunjukan benda yang kutemukan tadi. Mata Kirana kembali berbinar ketika menatap benda yang kupegang, itu kunci yang dimaksud dalam kertas! “Lihat petunjuk berikutnya!” perintah Tomy.

“Kita harus mencari sebuah lemari dengan ukiran naga dan trisula yang sama dengan kunci ini. Di sana, kita akan mendapatkan petunjuk berikutnya.” Kami saling pandang.

“Sepertinya aku menemukan lemari yang dimaksud, ketika aku mencari kertas itu, lemari itu ada di sekitar sini.” Ujar Kirana lalu kami segera mencarinya.

Angin dingin berembus melewati celah di kamar pengap ini. Kutelan ludahku sendiri, menatap kagum lemari yang tingginya menyentuh langit-langit kamar.

Benar saja, lemari itu berukirkan seekor naga dengan motif trisula di pintu kirinya. Lemari itu cukup besar dengan warna putih yang sudah kusam. Dengan tangan bergetar kumasukan kunci itu dan perlahan memutarnya. Kosong.

Hanya kegelapan yang menyelimuti isi lemari itu. Tak ada satupun benda mencurigakan di dalamnya.

Hanya sebuah lemari biasa dengan beberapa baju lusuh di sekat atas dan beberapa gaun menggantung. Kubalikan badan menatap mereka lalu menggeleng perlahan.

“Tak ada apapun? Kau yakin?” Tanya Tomy yang mulai emosional. “Setelah sejauh ini kita melakukannya, ternyata hasilnya kosong! Ini gila! Sudah kubilang, tak akan berhasil, lemari bodoh! Kita tertipu oleh buku itu!”

Dia tertawa mengejek kemudian menendang isi lemari itu, kami terpaku menatapnya. “Lemari bodoh! Sialan!” Hardiknya, kami manatap pasrah. Tiba-tiba, bruk! “Argh!!” jeritnya.

“Tomy!!!!!” teriak kami kompak, Leon lalu memegang lengan berkeringat milik Tomy. Dia jatuh ke dalam lemari itu! Ini gila, mana mungkin! Ini bukan film Narnia yang dapat masuk ke dunia lain dalam sebuah lemari. Ini nyata! Tak mungkin seperti itu.

“Tomy, bertahanlah!” ujar Leon yang setengah membungkuk, aku menarik lengan Kirana yang memegangi tubuh Leon.

“Aku gak bisa, ada yang menarikku! Tolong aku!” suaranya tercekat. Seolah ada yang mendorong tubuhku, kami tersungkur ikut masuk ke dalam lemari. Kami menjerit sekuat tenaga. Lorong dalam lemari itu sangat gelap. Kami berteriak pasrah, entah dimana ujung lorong ini.

***

Aku berjalan di tengah malam, tak tahu ini di mana, semua rumah yang kulihat hanya setinggi badanku, berukirkan naga dan trisula, sepertinya penghuni di sini memuja dewa naga, pikirku.

Tempat ini sunyi dan aku hanya sendiri. Angin makin menusuk dagingku yang hanya dibalut sweater tipis.

Dari kejauhan, di sebuah rumah di balik jendela kulihat kumpulan orang, namun ada yang beda dari mereka. Kuhampiri sosok itu secara perlahan.

Aku bersembunyi di balik rumah kecil itu. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku tak mengerti bahasa apa yang mereka ucapkan. Tubuh mereka pendek, hanya setinggi kira-kira seperempat tubuhku.

Wajahnya keriput, telinganya panjang seperti keledai, mereka juga memiliki hidung dan dagu yang panjang. Mata mereka bulat menonjol bagai telur.

Kuedarkan pandangan ke dalam rumah kecil itu dan mendapati seorang lelaki normal! Dia Joe! Aku memekik kaget, salah seorang dari mereka memergokiku, aku segera berlari.

Makhluk bertubuh pendek itu terus mengejarku, dia membawa busur dengan anak panah berbentuk trisula. Aku berlari sampai akhirnya kurasakan sebuah anak panah manancap di betisku! Aku terjatuh dan tak ingat apapun.

Saat aku kembali tersadar, aku berada di sebuah ruangan pengap. Apakah ini rumah para makhluk aneh itu? Pencahayaan di sini menggunakan lilin membuat pandanganku sedikit kabur.

Aku baru menyadari bahwa tangan dan kakiku terikat! Sial! Aku meronta seraya berusaha mengeluarkan suara yang ternyata mulutku juga disumpal kain! Aku menangis sejadinya. Tiba-tiba seseorang membuka pintu.

Aku berpura-pura tidur. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan? Batinku. Lalu sesuatu menghantam kakiku, terasa pedih, aku ingin menjerit namun tertahan.

Mereka nampak kesal, lalu pergi keluar. Kubuka mataku dan mendapati Joe ada di hadapanku! Dia membuka ikatan di lengan dan kakiku, aku memeluknya erat, menangis dalam dekapannya.

“Apa yang terjadi, Joe? Kita ada di mana?” semburku ketika dia melepaskan pelukannya.

“Aku gak tahu kita di mana, tapi aku tahu siapa yang membuat ini terjadi.” Aku terbelalak kaget “Siapa yang mengajakmu ke sini?” lanjutnya.

“Aku ikut Nico, Tomy dan Leon untuk mencarimu,” lirihku tak kuasa menahan rintik air mata. “Kau bodoh Kiran! Nico! Dia, Sekarang di mana mereka?” Joe mulai naik pitam.

“Apa maksudmu, Joe?” aku berteriak tak mengerti menatap kekasihku yang tengah mencari jalan keluar.

Tiba-tiba sebuah besi panjang jatuh dari langit-langit menghantam tubuhku! Sukses membuat tubuhku terbelah dua! Dan pandanganku menghitam.

“Kirana!” teriak Joe menghampiriku “Kirana! Bangun sayang… Bangun!” dia menangis memeluk tubuhku, tubuh yang sudah terbelah dua. Isi perutku terurai, darah mengalir dari tubuhku membanjiri lantai, mengotori pakaian Joe.

Pintu terbuka, terdengar suara tawa aneh dari sana. Aku belum sepenuhnya mati, aku dapat mendengar tawa itu, mendengar amarah kekasihku pada makhluk bertubuh mengerikan itu.

Aku merasa telingaku tak berfungsi dengan baik, udara memenuhi gendang telingaku, pandanganku memudar, dan semuanya menjadi benar-benar gelap.

***

Hari ini mentari bersinar terik menyengat kulit. Angin yang diterbangkan berembus panas. Sesekali gesekan daun di pohon terdengar menyayat.

Gersangnya siang itu membuat kulit menjadi kering, kerongkongan terasa cengkar akibat lama tak terbasahi air. Tempat yang sejuk berubah seketika bak gurun gersang yang siap memanggang siapapun di atasnya.

Aku mengerjapkan mataku berkali-kali, mengamati sosok di sampingku. Aku seperti tertidur sangat lama, aku baru sadar ketika kulihat pancaran api kecil di meja. Ini malam hari, aku tak tau ada di mana.

“Aku gak mau tau, Nic! Kamu harus tanggung jawab!” suara Joe meninggi. “Tapi aku gak tau apa-apa, Joe!” sanggah Nico.

“Sudahlah kalian tenang!” kini suara Leon yang kudengar. Aku menatap mereka satu persatu. “Apa yang terjadi?” suaraku tercekat. Mereka menatapku.

“Dia udah buat hidup kita terancam, Tom! Kita bakalan mati! Gara-gara dia!” Semprot Joe padaku.

Aku menatap Nico yang hanya mematung dijadikan kambing hitam oleh Joe. “Ini hanya salah paham, Joe!” ujar Leon.

“Kirana mati depan aku! Aku lihat dia disiksa kurcaci tengik itu! Aku lihat tubuhnya terbelah dua! Dia membunuh Kirana! Nico mengendalikan mereka semua!” Joe akhirnya meluapkan segala kekesalannya, ditonjoknya lelaki berkacamata itu hingga membuatnya tersungkur.

“Sadar Joe! Sadar! Dia temen kamu!” cegah Leon. Aku hanya menatap tak percaya. “Dia bukan temen aku! Dia iblis! Iblis yang haus darah!”

***

Crat!! Sebuah gregaji mesin berhasil memenggal kepala Joe! Darah keluar dari lehernya. Tubuhnya kaku lalu terjungkal. Kepala itu menggeling ke arahku.

Aku terperanjak melihat kepala tanpa tubuh itu, matanya menatapku, lidahnya menjulur. Aku menutup mulut dan mataku.

Kini aku merasa perutku mual. Kepala itu terus mengucurkan darah segar. Leon dan Nico bersitatap, tubuhnya gemetar, bajunya berlumuran darah.

“Nico! Apa yang terjadi padanya?” ujarku menatap geram sosok itu. Entah kenapa lelaki berkacamata itu selalu saja mematung ketika terkejut.

“Ayo cepat pergi!” Ajak Nico, kami berlari tanpa tujuan, meninggalkan jasad Joe yang terpisah.
Aku tak tau dari mana kisah ini berawal, yang jelas setelah kejadian itu kami merasa sangat takut.

Tiap deru napas kian lama semakin menipis, debar jantung seperti sudah bisa terhitung. Nyawa kami terancam! Entah siapa orang itu.

Sosok itu tak nyata, namun ancamannya begitu terasa. Malam itu kami habiskan waktu bersama di sebuah rumah kecil milik seorang yang tampak aneh. Jam dinding terasa begitu berat untuk memutarkan jarumnya.

Waktu seolah melambat, kami hanya duduk tanpa berkata apapun. Memandangi satu persatu wajah yang kian memucat.

“Aku merasa jika nyawa kita diincar para makhluk aneh itu!” Kata Leon ketika kami berlindung di sebuah rumah tak berpenghuni.

“Aku ingat satu hal, ketika kita memasuki sebuah rumah lalu menemukan sebuah lemari dan Tomy mengutuk lemari itu!” ujar Nico yang sedari tadi bungkam.

“Apa maksudmu? Apa sekarang kau menyalahkanku? Justru kau yang menyarankan kita untuk pergi mencari Joe! Dan sekarang kau malah menyalahkanku! Kau ingat betapa semangatnya ketika Leon membelamu! Sekarang aku malah curiga pada kalian berdua!” hardikku yang mulai kesal.

“Kau pikir aku yang bersalah? Apa kau juga tak bersalah karena telah mengutuk lemari tua itu? Hah, sialan! Teman macam apa kau ini?!” jawab Nico tak mau kalah.

“Oh, jadi kau menganggapku bersalah? Kirana dan Joe telah mati, apa mereka menjadi tumbalmu yang pertama, Nico?!”

“Sudahlah! Cukup! Apa kalian tidak bisa bersikap dewasa? Dua teman kita sudah mati, mereka dibunuh! Itu sudah jelas. Jadi kurasa kalian jangan saling menyalahkan! Nyawa kita juga sedang terancam!” Teriak Leon yang sudah tak kuasa menahan amarah.

“Apa kau buta, Leon? Joe mati di depan kita! Pelakunya pastilah dia! Dia yang bekerjasama dengan para kerdil itu!” mataku memerah, gejolak di dadaku tak tertahankan lagi.

Aku berhasil menampar dan menginjak tubuh lelaki berengsek itu, aku merasa puas. Leon tetap membelanya. Angin tiba-tiba bertiup kencang, mataku termasuki debu.

***

“Sebaiknya kita mencari jalan keluar.” Ujar Nico lalu melangkah keluar mengendap-endap. Usaha kita gagal, para kurcaci itu melihat kami. Kami berlari tergopoh-gopoh dengan sisa tenaga yang minim.

Aku terus berlari dengan mata yang kian memanas, mataku perih, terasa gatal. Aku terus menggosok mataku sampai aku merasa sebuah benda licin menggenang di pelupuk. Kuhentikan langkah dan melihat cairan itu.

Ternyata, itu darah! Mataku berdarah! Aku tak bisa melihat lagi, semuanya terhalang debu aneh bercampur darah di mataku. Darah terus mengucur membasahi kedua pipiku. Aku tersungkur.

“Tolong! Leon! Aku gak bisa melihat!” teriakku seraya menggapai-gapai sesuatu yang kupijak. Aku tak mendengar suara Nico ataupun Leon, aku hanya mendengar sebuah tawa, menggema.

Tawa itu terdengar seperti suara nenek sihir. Aku tak tau pasti sosok apa di hadapanku ini. Dia terus tertawa.

Angin kembali berembus. Tubuhku bergetar, aku berusaha bangkit namun kurasakan sebuah hantaman di kedua kakiku. Aku menjerit histeris. Kugapai kakiku yang telah terpisah.

Aku merangkak menjauh, tak bisa merasakan apapun selain perih. Aku terus berteriak namun semakin berteriak makin habis bagian tubuhku dipotong olehnya.

Kurasakan mual di perutku, lalu terasa hampa. Kugapai perutku yang ternyata isinya telah berhamburan.

Kubuka mataku perlahan dan mendapati potongan tubuhku dimana-mana, sosok itu terus tertawa, aku mulai lelah.

Tanganku tak kuat untuk menggapai apapun. Sret! Kurasakan benda dingin menyentuh leherku dan kepalaku menggelinding. Terpisah dengan semua anggota tubuhku.

***

“Huh, huh, huh,” kupegang dadaku yang sudah terlalu lelah. “Dimana Tomy?” aku mencari sosok tinggi itu, namun tak kutemukan. Nico hanya menggeleng. “Tomy!” kuedarkan pandangan namun tak kutemui sosoknya itu.

“Nico, kita harus mencarinya, kita harus bisa keluar dari tempat ini.”

“Bagaimana bisa, Leon?!” sergahnya lalu terbatuk. “Dimana buku itu? Kita harus cari Tomy!” ujarku menatap Nico yang juga menatapku.

“Aku gak tau! Mending kita lanjut pergi aja! Lagian buku itu gak pernah berujung jika kita masih hidup.” Katanya.

“Kau gila! Apa maksudmu?! Tomy hilang, aku takut dia malah jadi korban yang selanjutnya!” aku mulai kesal.

“Dia itu keras kepala, dia egois Leon!” Nico memelototiku. “Apa maksudmu? Apa yang sebenarnya terjadi Nico!! Bicaralah! Aku sudah muak dengan semua ini!” hardikku padanya. Nico menatapku tajam.

“Kau ingin tau? Iya! Sebenarnya aku yang melakukan ini semua! Aku yang membuat mereka mati, aku ingin menjadi manusia seutuhnya! Aku yang mengirim Joe kesini dan aku yang mengatur semua rencana ini agar kalian mati..!” kata Nico meremas kerah bajuku.

Aku tersentak mendengar perkataan Nico.
“Dan sekarang giliran kau yang mati, Leon! Aku juga muak melihatmu disini, aku muak dengan wujudku di alam ini, dengan memakan jasad kalian kami akan menjadi manusia seutuhnya!” tawanya lalu menggelegar, aku jatuh tersungkur.

Aku tak percaya pada pernyataannya. Hal yang bisa kulakukan saat ini : berlari secepatnya dan mencari Tomy.

“Berlarilah kelinci jelek! Kau pasti tertangkap!” Nico lalu berubah menjadi sosok kerdil seperti makhluk aneh itu. Dia terbang sangat cepat.

Aku berlari terus dengan lutut lemas, tubuhku bergetar hebat. Nico masih mengejarku, dia tertawa riang seraya mencoba mamanahku. Aku terjatuh, sosok itu berpijak lalu menertawaiku. Tak banyak yang kulakukan selain terus berlari dengan tubuh gemetar.

“Aww, dapat satu!” teriak Nico yang berhasil membidik anak panahnya tepat di betisku. Aku kembali terjatuh, kucoba untuk mencabut anak panah itu, walaupun sakit, aku mencobanya.

“Argh! Aww..” rintihku lalu melempar benda itu. Aku kembali berlari, Nico masih mengejarku.

“Sudahlah, kau pasti lelah berlari terus!” ejeknya dengan tawa menggema.
Aku tiba disebuah rumah kosong lalu bersembunyi di balik meja, anak panah itu meleset.

“Hah? Apa itu?” Nico lalu menghampiri anak panah yang meleset itu.

Kurasa ini waktu yang tepat! Aku segera mengambil pedang yang berada tak jauh dariku lalu segera menghunuskan tepat di jantungnya.

Dia berbalik, sosok itu menatapku dengan sebuah pedang tertancap di dadanya. Dia menyeringai. Giginya besar dengan taring yang tajam. Darah segar mengalir deras. Lalu tubuh kecil itu terjungkal.

Aku berjalan dengan menyeret kakiku yang terluka. Kudapati sebuah kursi di ruangan itu dan mencoba memberi perban pada kakiku. Kutatap sosok kerdil Nico lalu tersenyum miris.

Kurobek lengan kemejaku lalu menalikannya di betis. Ekor mataku melihat sebuah benda yang sangat kukenal.

Kuhampiri benda itu, ternyata buku milik Nico! Aku sangat bersyukur menemukan buku itu. Kubaca perlahan buku itu dengan air mata menggenang.

Hatiku begitu pilu, semua sahabatku telah mati di tempat asing ini, aku tak boleh menyusul mereka, aku harus selamat, itu tekadku! Kisah dalam buku itu sama persis dengan yang kulalui.

Kubuka halaman belakang buku itu, kuharap terdapat jalan keluar dari lembah terkutuk ini. Namun, ternyata halaman terakhir itu hilang!

Halaman terakhir buku itu dirobek! Aku terkejut bukan main, mataku terbelalak. Aku baru menyadari satu hal: Ini tak akan pernah berakhir! Kisah akhir cerita ini tak pernah ada! Seperti kata Nico, tak pernah berujung.

Terdengar suara cekikikan di arah belakang. Jantungku kembali berdegup kencang, tubuhku gemetar, kuharap ini bukan pertanda buruk bagiku. Setelah kubalikan tubuhku, makhluk aneh itu tertawa mengejekku, tawanya menyeringai.

Mereka membawa sebuah pedang, gergaji mesin, trisula dan seseorang, dia adalah.. Nico! Dia membawa busur panah dan mengarahkannya padaku! (*)

*Tentan Penulis: Annisa Nurjannah. Lahir di Bandung, 22 November 1999. Pelajar SMA Negeri 1 Rancaekek, Kabupaten Bandung. Idline: annisanurj224, Facebook: Annisa Nurjannah.