OLEH: Anita Nurhayati

ANGIN di bulan Oktober berembus menerpa tubuhku yang sedang melenggang berjalan di trotoar. Entah akan kemana kakiku akan membawa, pikiranku sibuk mengulang kembali peristiwa-peristiwa tak menyenangkan yang telah terjadi padaku dan hubunganku bersamanya, bersama seseorang yang sangat aku kasihi.

Sudah sedari tadi air mataku dengan bebasnya berlomba-lomba membanjiri pipiku. Aku tak tahu akan kemana yang jelas sekarang aku sendiri, benar-benar sendiri bahkan aku sesekali tak mendengar ada kendaraan yang melewati ku dengan kecepatan penuh.

Aku berjalan terus berjalan, bayangan tentangnya tak mampu terhapuskan dalam benakku. Aku sesekali memejamkan mataku sambil memutarkan bola mataku untuk sekadar melupakan peristiwa itu.

Bau darah yang berceceran mengalir dari kedua tangannya. Darah yang telah kering di pakaiannya. Air matanya yang terlihat tulus, pandangannya yang sayu seakan ingin mengatakan bahwa dia benar-benar menyayangiku.

“Aaaarrrggghhhh…” aku segera menghilangkan pikiranku tentangnya. Ini benar-benar menyiksaku aku bodoh, aku sangat bodoh ini semua karenaku yang terlalu egois.

Sambil terus merasakan angin dingin yang mengeringkan air mataku, aku berjalan tanpa tau arah, sekali lagi aku hanya ingin terus berjalan sampai aku benar-benar tak mampu untuk berjalan lagi.

Tak terasa sore telah berganti malam, kabut tebal menghalangi pandanganku namun aku tetap melenggang menyusuri jalanan ini. Aku tak tau dimana yang aku pikirkan sedari tadi hanya dia, sampai cahaya panjang sebuah mobil menyilaukanku.

Aku terdiam mematung segera sadar bahwa sekarang aku berada di tengah jalan dan cahaya menyilaukan itu semakin mendekat lalu.. Bruuukkkk…

Aku tak sempat menghindar dari hantaman truk kuning itu. Tubuhku terpental sangat jauh. Aku merasakan tubuhku benar-benar remuk dan sesuatu yang cair mengalir dari dahi dan keluar dari lubang hidungku. Aku melihat samar-samar truk kuning itu berhenti beberapa meter dari tempatku terbujur kaku lalu seseorang menghampiriku dan aku menutup mataku perlahan.

Aku refleks membuka mataku yang terpejam tadi, aku mendapatkan mimpi buruk itu lagi. Aku merasakan keringat dingin mengalir di pelipisku dan tubuhku yang sedang terbaring di ranjang.

Aku kaku mencoba menenangkan diriku sendiri sambil menyapu seluruh ruangan yang tak kukenali. Suara pendingin ruangan berpadu dengan suara lemari es pada tengah malam.

Denting jarum jam terasa seperti debaran jantungku saat ini yang seakan terdengar sangat keras. Aku dimana. Pikirku. Aku mencoba mengingat apa yang telah terjadi.

Tiba-tiba sekelebat bayangan memenuhi pikiranku. Lalu tiba-tiba kepalaku sakit. Aku baru ingat bahwa aku berada di rumah sakit selama kurang lebih satu minggu ini dan menurut dokter aku mengalami cedera otak sehingga aku menderita amnesia. Lalu mimpi buruk tadi adalah kejadian yang telah mengantarkanku ke ruangan terkutuk ini.

Tapi.. Siapakah lelaki dalam mimpiku itu? Mengapa hatiku sangat sakit ketika melihatnya dalam mimpi dan mengapa juga dia dipenuhi oleh darah?.

Wajahnya begitu ku kenal meski samar-samar terekam dalam benaku. Siapa dia?

“Aaagggghhh” aku refleks memegang kepalaku yang terasa sangat sakit kemudian aku memencet bel yang berada di sampingku untuk memanggil suster yang telah menjagaku selama ini.

Tak lama kemudian seseorang membukakan pintu dan menghampiriku, itu suster Acha yang selama ini dengan sabarnya menemaniku. Wajahnya yang masih terlihat sangat cantik menutupi usianya yang telah memasuki kepala lima.

“Ada masalah apa ?” tanyanya ramah sambil tersenyum tulus. “Kelapaku sakit lagi, sus..” aduku padanya yang sudah aku anggap sebagai orangtuaku sendiri.

“Pasti kamu maksain buat mengingat mimpi itu lagi, ya?” tebaknya yang tak pernah meleset. Aku mengangguk menatapnya. Beliau tersenyum padaku yang sedang berbaring dengan bantal yang banyak.

“Sudahlah jangan terlalu berfikir keras.. dengan sendirinya ingatanmu akan kembali.” Ucapnya sambil bersiap untuk meninggalkan ruanganku.

Aku tersenyum lalu mengucapkan terima kasih padanya. Beliau mengangguk lalu menutup pintu ruanganku.

“Selamat pagi, Kirana apa kabarmu?” ucap seorang dokter yang ditemani suster Acha di sampingnya. Aku diam tak menjawab. Entahlah aku sedang tak ingin berbicara karena semalaman suntuk aku tak bisa tidur dan mood ku sepertinya sedang tidak baik. Seperti biasa, suster Acha membuka gorden dan cahaya masuk menembus kaca jendela. Dokter itu, yang sebenarnya aku lupa siapa namanya seperti biasa memeriksa keadaanku.

Aku yang sedang duduk di ranjang hanya menatap kearah luar jendela.

“Hari ini ada yang ingin menemuimu, Kirana. Saya harap kamu bisa mengingat dengan baik dan akan menyembuhkanmu.” Ucapnya lagi padaku.

Aku tetap bergeming, kali ini aku memandangnya tanpa bicara. Beliau tersenyum padaku lalu meninggalkan ruanganku bersama dengan suster Acha.

Ini sudah pukul empat sore dan aku benar-benar sangat bosan karena sedari pagi aku hanya menatap ke luar jendela tanpa melakukan apa pun dan yang lebih menyedihkan aku hanya sendirian.

Aku duduk menghadap jendela dengan kursi rodaku. Hanya melamun sampai tiba-tiba seseorang membuka pintu ruanganku. Aku mengabaikannya karena itu pasti suster atau dokter yang mengingatkanku untuk mandi atau hanya sekadar menanyakan kabarku.

“Ana, ada yang ingin bertemu denganmu” itu suara suster Acha. Aku mengabaikannya sampai suara pintu ruangan kembali tertutup. Seseorang berdiri di sampingku sambil menghadap ke jendela kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. Aku tidak penasaran siapa yang datang menemuiku sampai akhirnya dia memulai percakapan denganku.

“Apa kabar?” Tanyanya yang jelas membuat jantungku berdebar sangat cepat. Bagaimana tidak, aku sungguh mengenal suara itu, dan bodohnya aku, aku lupa kalau aku amnesia sehingga aku tak tau siapa dia.

Aku tak menjawab, pikiranku terus saja bertanya-tanya siapa dia dan mengapa dia ada di sini. Beberapa potong ingatan berkelebatan membuat kepalaku perlahan merasakan sakit yang amat sangat. “Aaarggghhh” aku mencengkram kepalaku kuat-kuat sambil menunduk. Dia berjongkok untuk melihat keadaanku sambil ikut memegang tanganku.

“Apa kamu baik-baik aja ?” tanyanya bodoh yang sudah pasti jawabannya aku tak baik-baik saja. Aku melihat wajahnya dan refleks aku melepaskan cengkramanku dan menatap wajahnya yang sangat tak asing bagiku. Dia juga menatapku dengan wajah yang terlihat mengkhawatirkanku mata kami bertemu aku mencoba menyelam sorot matanya selama beberapa detik kami saling bertatapan.

Sampai sekelebat bayangan mengacaukan semuanya. Aku kembali merasakan sakit kepala yang otomatis aku mengalihkan pandanganku. Entah apa yang ada dalam benaknya, dia malah memapahku menuju ranjang dan membantuku untuk berbaring. Dia menarik selimut menutupi tubuhku lalu dia duduk di kursi samping ranjangku.

“Istirahatlah.. Aku akan menemanimu” ujarnya. Aku tak ingin menjawab perkataanya yang aku rasakan saat ini tubuhku sakit. Aku memejamkan mata mencoba untuk tidur.

Aku terbangun dan mendapatkan diriku tak lagi berada di ruangan serba putih. Suasana di sini lebih lembut dan menentramkan jiwaku. Aku bangun dan duduk di kasur empuk lalu melihat ke samping jam menunjukkan pukul sembilan.

Aku melihat kearah jendela yang berukuran sangat besar masih tertutup oleh gorden yang berwarna senada dengan cat tembok, karamel. Aku menyapu pandanganku mengintari seluruh isi kamar ini tiba-tiba seseorang membuka pintu lalu menghampiriku.

“Ahh maaf, aku kira kamu masih tidur makanya aku ga ketuk dulu” ujarnya padaku. Aku hanya menatapnya. Orang yang sama yang saat itu menanyakan apa aku baik baik saja. Aku tak menjawab.

Dia berlalu kearah jendela besar itu dan membukakan gordennya. Sinar matahari menerobos masuk ke dalam ruangan. “Kenapa aku ada disini?” tanyaku yang kemudian membuka suara. Dia menghampiriku dan duduk di bibir kasur sambil menatapku.

“Kemarin kamu ga siuman sih, dokter udah bolehin kamu pulang kok. Katanya kamu hanya tinggal pemulihan aja.” ujarnya sangat ramah dengan senyum yang membuat jantungku berdebar.

“Pulang? Apa ini rumahku?” tanyaku polos. “Bukan. Ini rumahku. Aku yakin kamu pasti lupa karena Dokter Herman bilang kamu amnesia. Sebenarnya kamu sangat mengenalku, ana. Sangat.” Ucapnya padaku dengan tatapan mata hangat. Aku menatapnya tajam.

“Kenapa kamu bawa aku ke rumahmu? Apa gakan jadi masalah?” tanyaku. Dia menggelengkan kepalanya dan tersenyum. “Gakan..” ujarnya. Aku hanya mengangguk lalu dia menyuruhku untuk segera mandi dan dia akan mengantarkan makanan padaku.

Sore hari datang menyapa. Lelaki itu kembali ke kamarku dan beberpa menit menemaniku. Dia mengatakan bahwa akan pergi ke rumah sakit dimana aku dirawat saat itu untuk mengurus beberapa hal. Aku merasa sangat bosan berada di kamar ini sejak pertama kali aku pulang dari rumah sakit. Aku membuka pintu kamar dan kutemukan beberapa anak tangga lalu menuruninya. Aku melihat beberapa foto berukuran relatif besar terpajang di sana.

Aku menatap beberapa foto dan aku menemukan suatu petunjuk tentang orang baik itu. Namanya adalah Fauzi, dan aku baru tau kalau dia juga seorang dokter, pantas saja dia yang merawatku saat ini dan dia sangat baik padaku. Aku mengembalikan foto itu ke tempatnya.

Menyapu seluruh ruangan dan aku menemukan pintu keluar. Aku berjalan menyusuri taman di belakang rumahnya. Benar-benar rumah yang besar dan terawat. Aku duduk di kursi taman sampai seseorang datang menghampiriku.

“kamu Kirana, ya?” tanyanya yang berdiri di hadapanku. Aku menengadah kearahnya lalu mengangguk. Dia duduk di sampingku tanpa berkata apa pun. Aku merasa risih akan sikapnya itu, tapi jujur saja dia sangat menawan.

“Aku Naufal, temannya Fauzi. Dia nyuruh aku buat nemenin kamu tadi tapi maaf aku telat macet soalnya” dia memperkenalkan dirinya dan basa basi. Aku hanya tersenyum menanggapi sikapnya yang menurutku aneh.

“Sejujurnya aja sih, kamu pasti kenal sama aku karena aku bagian dari masa lalu kamu” ujarnya yang membuatku tercengang mendengarnya.

“Sebentar, kamu masa lalu aku? Maksud kamu apa?” tanyaku tak mengerti. “Ahh sudahlah.. Yang jelas aku ingin buat kamu ingat lagi tentang kita, ana.. Jujur aja aku masih sayang sama kamu.” Jelasnya sambil menggenggam kedua tanganku kedua bola matanya yang menatapku dalam terlihat sangat serius.

“A..apa yang kamu katakan ? Jelas, aku ga kenal kamu..” ucapku sambil mencoba melepaskan genggaman tangannya.

“Aku Naufal.., ana.. Kamu ingat ? Ini foto kita..” ujarnya mencoba meyakinkanku dan menunjukkan foto yang memang aku sedang berada di sampingnya sedang tersenyum.

“A..apa ini maksudnya.. Ini terlalu cepat, aku ga ngerti.. Aku ga inget apapun.. Kamu.. Kamu…” saat aku mencoba mengingat tentangnya kepalaku terasa sangat sakit namun aku menahannya mencoba kuat dan mengingat siapa dia.

Sampai air mataku perlahan jatuh. Ya.. Aku mengingatnya.. Aku tahu siapa dia.. Dengan gemetar aku menatapnya dan aku mulai menangis.

“Maafkan aku, Fal.. Maafkan aku.. Aku menyesal.. Aku menyesal udah nyakitin kamu sampai kamu coba buat bunuh diri kamu sendiri.. Dan kamu.. Bersama orang lain.. Bukankah.. Kamu udah nikah, ya?” tanyaku sambil menyeka air mata. Matanya berkaca-kaca menatapku dalam. Aku ingat dia..

Dia yang selama ini ada dalam mimpiku. Dia yang selalu aku fikirkan saat aku pergi dari rumah, saat aku berjalan sambil mengingatnya dan aku tertabrak.. dia adalah Naufal..

Dia menggelengkan kepalanya. “Aku membatalkan pernikahanku.. Aku sadar yang aku cinta kamu, bukan dia.. Maafin aku” ujarnya menahan tangis. Aku menggeleng. “Nggak seharusnya kamu gini.. Kamu salah.. Kamu ga boleh kayak gini, fal.. Kasian dia” ucapku. Dia menggeleng.

“Aku tau aku salah, na.. Tapi izinin aku buat sama kamu lagi.. Aku sayang sama kamu” ucapnya yang kemudian mengusap kepalaku.

“Aku.. Maafin aku, fal… Aku udah buat salah sama kamu..” ucapku lagi. Dia memelukku sangat erat dan aku menangis dalam pelukannya. “Ekhem.. Maaf kalau aku ganggu kalian.. Tapi aku harus ingetin Kirana kalau dia belum boleh keluar lama-lama” ucap seseorang yang mengagetkanku. Dia adalah Dokter Fauzi. Aku menengadah menatapnya. Matanya sendu lalu tersenyum. Entah mengapa aku merasa bersalah padanya atas situasi tak mengenakan ini.

Aku berada di kamarku. Sedang duduk sambil menyender pada bantal yang bertumpuk. Aku membiarkan seluruh isi kamar gelap dan aku membuka jendela besar itu. Embusan angin menerbangkan gorden membuat udara malam ini terasa sangat dingin namun aku membiarkannya. Seseorang membuka pintu kamarku dan cahaya merambat masuk ke dalamnya. Pintu kembali tertutup dan dia duduk di bibir kasur menatapku yang terlihat olehnya seperti frustasi.

“Ayo kita makan malam, ana..” Ajaknya dengan senyuman yang sangat manis. Jantungku berdebar sangat cepat melihat senyuman itu dan aku sungguh tak kuasa menatapnya lama-lama.

Kemudian aku mengangguk. Kami berjalan berdua dia menggandengku menuruni anak tangga menuju meja makan. Aku melihat dari kejauhan ada seseorang di meja makan, dia seorang perempuan. Siapakah dia pikirku.

Sesampainya di sana, aku duduk di sebelah perempuan itu. Dia tersenyum kearahku dan Dokter Fauzi duduk berhadapan denganku.

Perempuan itu dengan baiknya menuangkan nasi dan lauknya di piringku dan aku membalasnya dengan senyuman.

“Ana, kenalin ini Risa, tunanganku.. dua bulan lagi kami akan menikah..” ujar Dokter Fauzi di tengah saat aku mengunyah makanan. Bagai tersambar petir rasanya jantungku sangat sakit, tidak bukan jantung tapi hatiku.

Perlahan aku menelan makananku yang sebenarnya belum halus. “Ohh ya? Wahh kalian sangat cocok ya.. Semoga cepat menikah..” Ujarku terlihat bodoh. Mereka berdua saling pandang lalu tersenyum. Aku menunduk menatap makananku yang sudah tak berselera lagi. Aku hanya mengaduk-ngaduknya lalu aku izin untuk kembali ke kamar beralasan tidak enak badan.

Tanpa mendengar kata-katanya, aku bergegas pergi dan berlari menuju kamar. Sesampainya di sana, aku menutup pintu kamar rapat-rapat berdiriku perlahan merosot, aku duduk memeluk lutut meluapkan segala tangis yang tadi aku tahan.

Ini sangat menyakitkan. Mengapa aku menangisinya? Padahal dia bukan siapa-siapaku bahkan aku baru saja mengenalnya. Saat aku sedang menangis tiba-tiba kepalaku sakit dan sekelebat bayangan berkeliaran liar dalam kepalaku.

Lelaki itu tersenyum padaku. Dia menyapaku. Pada hari berikutnya aku mengobrol dengannya meski hanya beberapa detik. Dia tersenyum lagi padaku. Dia menyapaku.

Aku mencengkram kepalaku mencoba mengingat siapa lelaki dalam benaku itu. Setelah aku merasakan sakit yang amat sangat, aku sudah lemah aku merasa sangat lemas saat kemudian aku melihat sosok dokter Fauzi dalam ingatanku.. Ya.. dia.. dia.. Fauzi.. Lelaki yang selama ini aku kagumi. Lelaki yang kutemui di kampus dulu..

Aku mengaguminya, aku menyukainya namun aku memendam perasaanku padanya. Pantas saja aku merasa tak asing saat pertama kali bertemu dan mendengar suaranya.

Dialah Fauziku.. Aku menenggelamkan wajahku dalam pelukan dilututku. Rasanya sangat sakit, sampai seseorang mengetuk pintu kamarku.

Dengan cepat aku menghapus sisa air mataku yang hampir mengering. “Sebentar..” ucapku terdengar gemetar. Kemudian aku memutar anak kunci dan membuka pintunya sambil menyeka air mata. Pintu terbuka dan saat aku melihat, dia adalah Naufal. Refleks aku langsung memeluknya dia terlihat sangat kaget dan membalas pelukanku.

“kamu kenapa?” tanyanya terdengar sangat khawatir. Aku hanya menangis sesenggukan dalam peluknya tak mampu menahan rasa sakit ini. “Aku udah ingat semuanya, aku udah ingat, fal..” ucapku terbata-bata. “Syukurlah.. Ini semua berkat bantuan Fauzi” ujarnya sambil tersenyum menarik kepalaku dan membuatku untuk menatapnya.

Dia menghapus air mataku yang tak henti menangis. Dengan terpaksa aku tersenyum dan dia kembali memelukku. Setelah beberapa detik dia melepaskan pelukannya “Oiya, ada yang mau aku katakan ke kamu” ujarnya sambil merangkulku masuk ke dalam kamar.

Dia membantuku untuk duduk di bibir kasur, aku duduk sambil menyeka air mata. Dia berjongkok di hadapanku dan menengadah ke atas menatapku.

“Aku sangat bahagia kamu udah ingat semuanya..” ujarnya menggantung, aku masih menunggu ucapannya. “Sejujurnya memang ini terlalu cepat, tapi aku gamau menunda lagi aku hanya ingin kamu jadi milik aku dan aku gamau kehilangan kamu untuk kesekian kalinya.

Maka dari itu, aku ingin kamu jadi istri aku, na. Kamu mau kan, sayang?” ungkapnya yang membuat mataku terbelalak diakhir kalimatnya. Aku merasakan tanganku keringat dingin dalam genggamannya.

“Ta..tapi.. Ini terlalu cepat dan aku..” ucapanku terpotong oleh jari telunjuknya yang hinggap di bibirku yang otomatis aku menghentikan penjelasanku.

“Aku bisa atur semuanya, yang aku mau cuma kamu. Jangan buat aku hancur untuk kesekian kalinya.” Ujarnya sambil memelas. Aku memutarkan bola mataku menahan tangis kemudian aku mengangguk mengiyakan keinginannya. Dia tersenyum kemudian sedikit berdiri dan memelukku sambil tak henti mengucapkan terima kasih. Aku mengangguk dan tak terasa air mata meleleh mengalir ke daguku.

Aku berdiri di taman belakang rumah Fauzi menatap jauh ke depan. Pikiranku kosong aku hanya merasakan embusan angin yang menerpa tubuhku sampai seseorang datang dari arah belakang merangkulku dan berdiri di sampingku melakukan hal yang sama denganku. Aku menoleh kearahnya. Aku melepaskan rangkulannya karena jika dekat-dekat begini aku merasa sangat pendek karena tinggiku tak melebihi dadanya. Kami saling menatap.

“Apa kamu baik-baik aja?” tanyanya sama seperti kali pertama aku bertemu lagi dengannya di rumah sakit saat itu. Aku tak menjawab malah membuang muka memandang jauh ke depan. Hening tak ada suara apapun.

Dia memutarkan badanku mencengkram kuat kedua bahuku dengan tangannya yang besar lalu membuatku menatapnya. “Masa mau nikah ga semangat gitu, sih” ujarnya yang membuatku muak untuk pertama kali padanya. Aku melepaskan cengkraman tangannya dan memutarkan bola mataku. Aku bingung harus mengatakan apa padanya.

“Bukannya kamu juga mau nikah, ya lusa?” tembakku padanya. Dia terdiam kemudian menunduk. Tiba-tiba saja dia tertawa.

“Kamu kan besok” tuduhnya padaku. Memang sih, hari pernikahan kita hanya beda satu hari saja. “Aku harap diantara kita ada yang membatalkan pernikahan” ujarku tiba-tiba dengan mata yang berkaca-kaca.

Seketika dia refleks menatapku dengan tatapan penuh tanya. Aku menangis. Ya butiran bening itu tiba-tiba saja meluap tak terbendung. Aku kesal mengapa aku berkata seperti itu padanya.

“Aku mencintaimu, Fauzi..” ungkapku akhirnya sambil menunduk dan menutup mulutku dengan satu tangan. Tangan kananku mencengkram kuat bahu kirinya. Aku merasakan dia bergetar. Lalu dia mengusap kepalaku dan membuat aku menatapnya.

“Ini gak seharusnya terjadi, kamu gak boleh cinta sama aku, Kirana. Ini salah.” ucapnya dengan nada yang semakin meninggi dia menatapku dengan tatapan tak seperti biasanya. Hatiku sakit, sangat sakit mendengar penuturannya.

“Gak boleh? Salah? Memangnya apa yang salah dari aku, Fauzi ? Mengapa aku salah dan Risa benar ? Mengapa dengan aku yang tidak boleh mencintaimu tapi Risa boleh mencintaimu, apa kami berbeda? Apa salahku? Mengapa dia bisa sedangkan aku tak bisa bersamamu? Sudah berapa lama aku menantimu sedangkan berakhir dengan seperti ini? Aku mencintaimu sedari kita pertama bertemu, Fauzi. Bilang sama aku, apa yang salah denganku?” tanyaku bertubi-tubi padanya yang membuat dia menunduk.

“Ini salah, ana. Gak seharusnya kamu cinta sama aku, Naufal yang seharusnya kamu cintai bukan aku.” Jelasnya yang sudah pasti aku tau itu, kini nadanya sudah mulai melunak. Aku masih menangis.

“Aku gak pantes buat berdamping sama kamu, ana.. Mengertilah..” ucapnya pelan sambil menatapku. Aku tak mengerti apa maksudnya.

“Kamu gak pantes, atau aku yang gak pernah pantas bersanding sama kamu?” tanyaku mulai emosi. “Nggak, ana. Bukan gitu..” ucapannya terpotong olehku. “Sudahlah, Zi. Lupakan semua yang udah aku ucapkan. Anggap saja aku gak pernah bilang itu semua sama kamu. Maafkan aku yang terlalu memaksakan perasaanku selama ini sama kamu. Aku akan berusaha mencintai Naufal lagi.” Ucapku yang kemudian aku pergi menjauhinya. Dia tidak menghentikanku sama sekali.

Fauzi duduk di kursi taman. “Aaarrgggghhhh sial!!!” dia berteriak sambil memukul keras kursi yang dia duduki kemudian dia memijat kepalanya. Air matanya mengalir bertumpu pada dagunya.

“Sejujurnya memang ini terlalu cepat, tapi aku gamau menunda lagi aku hanya ingin kamu jadi milik aku dan aku gamau kehilangan kamu untuk kesekian kalinya. Maka dari itu, aku ingin kamu jadi istri aku, na. Kamu mau kan, sayang?” ungkapnya yang membuat mataku terbelalak diakhir kalimatnya. Aku merasakan tanganku keringat dingin dalam genggamannya.

“Ta..tapi.. Ini terlalu cepat dan aku..” ucapanku terpotong oleh jari telunjuknya yang hinggap di bibirku yang otomatis aku menghentikan penjelasanku. “Aku bisa atur semuanya, yang aku mau cuma kamu. Jangan buat aku hancur untuk kesekian kalinya.” Ujarnya sambil memelas.

Aku memutarkan bola mataku menahan tangis kemudian aku mengangguk mengiyakan keinginannya. Dia tersenyum kemudian sedikit berdiri dan memelukku sambil tak henti mengucapkan terima kasih.

Fauzi menangis mengingat saat itu tak sengaja ia melihat Kirana menerima lamaran Naufal. “Seharusnya aku bilang sejak dulu sama kamu, na. Aku sayang sama kamu”. Aku terus saja berlari sambil menangis aku hanya tak ingin bertemu lagi dengannya. Dia sungguh telah membuat hatiku sakit. Tapi bagaimanapun juga aku layak mendapatkan ini semua. Tak seharusnya aku mencintainya seperti ini, yang seharusnya aku cintai hanya Naufal, dialah yang akan menjadi suamiku kelak. Hanya dia. (*)

TENTANG PENULIS

Anita Nurhayati

Lahir di Bandung, 22 November 1999

Idline: arisa_nishimuraya22

Ig: Anitanurhayati22

Fb: Anita Artha Charter